- Kejaksaan Negeri Surabaya menyelidiki dugaan penyimpangan proyek jaringan gas rumah tangga oleh PGN di Kota Surabaya.
- Penyelidikan mencakup aliran dana sebesar Rp2,3 triliun yang dianggarkan untuk proyek tersebut selama tahun 2018 hingga 2025.
- Jaksa tengah memverifikasi kesesuaian data dokumen kontrak dengan fakta lapangan menanggapi keluhan masyarakat atas pelaksanaan proyek.
SuaraJatim.id - Proyek raksasa pembangunan jaringan gas (jargas) sambungan rumah di Surabaya yang dikelola Perusahaan Gas Negara (PGN) tengah berada dalam bidikan serius Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.
Tak tanggung-tanggung, jaksa sedang menelusuri aliran dana fantastis senilai Rp2,3 triliun. Anggaran jumbo tersebut dialokasikan untuk rentang waktu tujuh tahun, yakni sejak 2018 hingga 2025.
Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, Tri Anggoro Mukti, mengungkapkan bahwa penyelidikan ini merupakan respons atas gelombang keluhan masyarakat yang merasa program pemerataan energi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Kami sedang menelusuri berbagai kemungkinan modus. Apakah ada jaringan yang sebenarnya tidak terpasang namun dilaporkan ada, pengadaan yang tidak terlaksana, atau spesifikasi teknis yang sengaja 'disunat'," tegas Tri Anggoro dalam konferensi pers, Rabu (17/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Ibarat menyisir benang kusut, tim jaksa kini tengah membedah tumpukan dokumen kontrak tahun demi tahun. Sedikitnya belasan orang telah dipanggil untuk memberikan klarifikasi.
Fokus utama jaksa adalah membedah teka-teki antara data di atas kertas dengan fakta di lapangan. Benarkah jumlah sambungan rumah yang dibangun sesuai dengan anggaran triliunan yang telah dikucurkan?
Meskipun penyelidikan ini baru mencakup wilayah Kota Surabaya, skala proyek yang masif membuat kasus ini menjadi perhatian nasional.
Namun, Tri Anggoro menegaskan bahwa pihaknya masih bekerja dalam koridor senyap dan tertutup untuk memastikan keakuratan data.
"Saat ini kami masih mengumpulkan data dan melakukan klarifikasi. Kami sedang menyisir tahun demi tahun untuk melihat apakah target tercapai atau ada perubahan rencana yang mencurigakan," tambahnya.
Baca Juga: Konvoi Pengesahan Pesilat Pecah, Warga Kalijudan Turut Jadi Korban
Hingga saat ini, belum ada nama tersangka yang muncul ke permukaan, pun angka pasti kerugian negara masih dalam tahap penghitungan.
Berita Terkait
-
Konvoi Pengesahan Pesilat Pecah, Warga Kalijudan Turut Jadi Korban
-
Gelombang Protes di Surabaya: Ojol hingga Pedagang Kecil Menggugat Kebijakan Ekonomi Prabowo-Gibran
-
Mahasiswa Cipayung Plus Turun ke Jalan, Kebijakan Prabowo Dinilai Tak Pro Rakyat
-
Surabaya Demam Piala Dunia 2026, Fans Rela Rogoh Kocek Jutaan untuk Jersey
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bukannya Dapat Penghargaan, 7 Polisi Penangkap 3 Legislator Gerindra Malah 'Dibuang' ke Polsek
-
Pendampingan Tim Patriot Brawijaya Bikin Warga Klamono-Segun Mandiri
-
Dua Kos di Surabaya Jadi Tempat Simpan Sabu, Pengedar Raup Untung Rp500 Ribu per Gram
-
Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP
-
Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga