- Anisa Muyassaroh, calon manajer Koperasi Desa Merah Putih asal Jawa Timur, meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil di Kalimantan.
- Alumnus Universitas Airlangga dengan IQ tinggi ini wafat diduga akibat serangan panas ekstrem saat menjalani pelatihan fisik tersebut.
- Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur menyatakan duka mendalam atas kehilangan talenta terbaik yang dipersiapkan memajukan ekonomi kerakyatan.
SuaraJatim.id - Dunia koperasi Jawa Timur tengah dirundung awan hitam. Seorang putri terbaiknya, Anisa Muyassaroh, mengembuskan napas terakhir justru saat ia sedang menempa diri untuk membangun negeri.
Alumnus Fisika Universitas Airlangga (Unair) ini meninggal dunia di tengah Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Kementerian Pertahanan di Kalimantan.
Kepergian Anisa bukan sekadar berita duka biasa. Ia adalah representasi dari harapan baru bagi ekonomi kerakyatan melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Anisa bukanlah kandidat sembarangan. Di kalangan rekan dan penguji, namanya bersinar sebagai calon manajer dengan kompetensi intelektual di atas rata-rata.
Hasil asesmennya mencatatkan angka IQ di atas 120, sebuah modal besar untuk mengelola organisasi ekonomi yang kompleks.
"Kami kehilangan salah satu putri terbaik. Ia adalah SDM terpilih yang kami persiapkan untuk membawa perubahan pada koperasi kita di masa depan," ujar Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, Selasa (30/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Langkah Anisa terhenti di tengah kerasnya medan pelatihan. Dugaan sementara, serangan heat stroke atau sengatan panas ekstrem menjadi penyebab di balik tumbangnya sang calon manajer.
Pelatihan fisik yang dimaksudkan untuk membentuk kedisiplinan dan mental baja itu justru menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah perjalanan hidup yang penuh potensi.
Solidaritas pun kini mengalir deras. Dari ujung timur Jawa hingga pelosok daerah lainnya, insan koperasi menggalang aksi kemanusiaan. Mereka merasa kehilangan rekan seperjuangan yang sudah merelakan kenyamanan hidup akademisnya demi terjun ke desa-desa.
Baca Juga: SPPG Lamongan Dilego Rp1,5 Miliar, Konflik Internal Jadi Penyebab
“Kita sangat membutuhkan tenaga dan kompetensi mereka, tapi keselamatan mereka harus tetap menjadi prioritas utama. Jangan sampai aset SDM berharga bangsa ini kembali menjadi korban,” tambah Endy.
Berita Terkait
-
SPPG Lamongan Dilego Rp1,5 Miliar, Konflik Internal Jadi Penyebab
-
19 Pekerja PT BMI Lamongan Tumbang Akibat Menghirup Gas di Ruang Produksi
-
Dolar Tembus Rp18 Ribu: Harga Besi Mendidih, Pengusaha Konstruksi di Lamongan Mulai Putar Otak
-
Skandal Rp151 Miliar Gedung Pemkab Lamongan Seret 3 Pejabat ke Sel
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
Terkini
-
Anisa Alumnus Unair Meninggal saat Mengikuti Latsarmil Kopdes Merah Putih
-
Hanya Karena Sampah: Nyawa Pelajar SMP Lumajang Melayang Usai Dianiaya Teman Sekelas
-
Insiden di Bypass Balongmojo Mojokerto: Jasad Misterius Tergeletak di Depan SPBU
-
Penemuan Mayat di Saluran Air: Pak Ogah Tol Mojokerto Barat Ditemukan Tewas Usai Subuh
-
BRI Perkuat Ketahanan Ekonomi PMI Lewat Program Pemberdayaan di Cirebon