Wakos Reza Gautama
Kamis, 04 Juni 2026 | 20:58 WIB
Pengusaha asal Kabupaten Lamongan yang bergerak di bidang distributor material konstruksi dan supplier besi-baja, bicara soal dampak nilai tukar rupiah yang terus melemah. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah hingga mencapai Rp18.000 pada Kamis, 4 Juni 2026 di Indonesia.
  • Pelemahan Rupiah memicu kenaikan harga komoditas besi dan baja impor sebesar 30 persen di pasar domestik.
  • Lonjakan harga material tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan biaya pembangunan infrastruktur serta perumahan di seluruh tanah air.

SuaraJatim.id - Kamis (4/6/2026) nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tampak memerah, menyentuh angka Rp18.000 per Dolar. Ini merupakan kabar buruk bagi para pelaku industri konstruksi di tanah air.

Bagi Pradita Aditya, fenomena ini bukan sekadar angka di berita, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan bisnis material baja.

CEO Duta Merpati, perusahaan distributor material konstruksi dan supplier besi-baja asal Lamongan ini, mengungkapkan bahwa pelelehan nilai tukar rupiah ini langsung menyulut kenaikan harga komoditas besi secara sistemik di pasar domestik.

“Efeknya sangat terasa. Kebutuhan baja nasional kita masih sangat bergantung pada impor karena produksi dalam negeri belum mampu menutup seluruh permintaan. Begitu Dolar naik, harga di gudang kami pun ikut bergejolak,” ujar Aditya, Kamis (4/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Meski kran impor dari Tiongkok dibuka lebar oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk menjaga stok nasional, tantangan baru justru muncul dari mata uang transaksi.

Mayoritas pasokan baja dunia berasal dari Negeri Tirai Bambu, namun transaksi internasional tetap menjadikan Dolar AS sebagai benchmark utama.

“Sekitar 90 persen impor berasal dari China, dan patokannya tetap Dolar. Jadi, saat kurs hari ini menembus Rp18.000, secara otomatis harga besi di tingkat lokal langsung melonjak tajam tanpa menunggu lama,” tuturnya menjelaskan mekanisme pasar yang terjadi.

Lompatan harga ini bukan kaleng-kaleng. Aditya mencontohkan kenaikan signifikan pada komoditas koil (coil). Sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram, kini harganya terbang ke angka Rp18.000 hingga Rp19.000. Bahkan di beberapa titik, harganya sudah menembus angka Rp20.000 per kilogram.

Kenaikan yang hampir mencapai 30 persen ini tentu akan memberikan efek domino pada biaya pembangunan infrastruktur hingga perumahan rakyat.

Baca Juga: Skandal Rp151 Miliar Gedung Pemkab Lamongan Seret 3 Pejabat ke Sel

Meski tengah dihantam badai nilai tukar, Aditya tetap mencoba optimis. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ia berharap daya beli pasar tidak ikut tumbang.

"Ini tantangan besar bagi kami di sektor distribusi. Kenaikannya lumayan besar, tapi kami berharap permintaan pasar tetap stabil dan roda perekonomian kita tidak terhenti. Kami harus tetap bergerak agar proyek-proyek konstruksi nasional tidak mangkrak,” pungkasnya.

Load More