Wakos Reza Gautama
Selasa, 21 Juli 2026 | 11:43 WIB
Femas Yani Arianto, backpaker Madiun yang hilang di Korea Selatan. Pihak Travel buka suara menanggapi kabar hilangnya Femas. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Femas Yani Arianto asal Madiun kabur dari rombongan wisata Berani Backpacker di Korea Selatan pada Juli 2026.
  • Investigasi mengungkap Femas sengaja memisahkan diri diduga demi menjadi pekerja ilegal dengan dukungan penuh pihak keluarga.
  • Kejadian ini berdampak pada kerugian finansial perusahaan serta rusaknya reputasi travel di mata otoritas luar negeri.

SuaraJatim.id - Kabar hilangnya Femas Yani Arianto (25), warga Desa Bantengan, Madiun, saat berwisata di Korea Selatan sempat memicu kekhawatiran publik.

Pihak penyelenggara perjalanan, Berani Backpacker, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan simpang siur informasi.

Sang pemilik, Muhammad Fariz Ragil Ramadhani, menegaskan bahwa ini bukanlah kasus orang hilang dalam pengertian konvensional.

Skenario pelarian ini dimulai pada malam pertama perjalanan di Negeri Ginseng. Saat anggota rombongan lain sedang menikmati suasana Korea, Femas justru memilih memisahkan diri tanpa pamit kepada Tour Leader maupun Tour Guide.

Upaya pencarian langsung dilakukan malam itu juga. Telepon dan pesan singkat dikirimkan bertubi-tubi, namun Femas bergeming. Ia hilang ditelan hiruk-pikuk kota, meninggalkan rombongan yang bingung dan cemas.

"Yang perlu kami luruskan, peserta atas nama Femas bukan hilang, melainkan memisahkan diri atau kabur dari rombongan tanpa sepengetahuan kami," tegas Fariz, Selasa (21/7/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Tim Berani Backpacker tidak tinggal diam. Mereka melakukan penelusuran hingga ke rumah keluarga Femas di Madiun. Di sinilah, sederet fakta mengejutkan mulai terkuak, meruntuhkan keterangan awal pihak keluarga.

Awalnya, keluarga mengaku tidak tahu apa-apa. Namun, hasil investigasi tim travel menemukan adanya ketidaksinkronan data.

Ibu Femas, yang menjadi sponsor perjalanan, belakangan diketahui mencetak rekening koran secara pribadi dan menandatangani surat sponsor. Lebih mencurigakan lagi, terdapat riwayat percakapan dan panggilan telepon dengan sang anak yang sengaja dihapus.

Baca Juga: Hanya Ada Motor: Misteri Hilangnya Kakek 70 Tahun di Hutan Wangun Tuban Belum Terpecahkan

Tak hanya itu, Femas diketahui memiliki latar belakang pendidikan bahasa di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dengan orientasi kerja di Korea Selatan. Perjalanan wisata ini diduga kuat hanyalah pintu masuk bagi Femas untuk menjadi pekerja ilegal.

Aksi nekat Femas tak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Ada konsekuensi finansial dan reputasi yang sangat besar.

Terkait isu denda Rp125 juta, Fariz meluruskan bahwa angka tersebut bukan denda dari Pemerintah Korea Selatan, melainkan konsekuensi bisnis antara pihak travel dan operator visa.

"Bagi saya, kerugian terbesar bukan soal uang, tapi kepercayaan. Membangun kepercayaan dengan pihak kedutaan dan mitra luar negeri itu butuh bertahun-tahun. Satu kejadian seperti ini bisa merusak segalanya," ungkap Fariz.

Meski merasa dirugikan, Berani Backpacker menyatakan tetap kooperatif untuk membantu proses pencarian agar Femas dapat ditemukan dan dipulangkan sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Load More