- Nelayan Pamekasan menghentikan aktivitas melaut sejak 29 Juni 2026 akibat kelangkaan bahan bakar solar untuk kapal mereka.
- Para nelayan mendatangi gedung DPRD Pamekasan pada 1 Juli 2026 untuk mengadukan kendala pengisian solar menggunakan jeriken di SPBU.
- Larangan penggunaan jeriken meski telah membawa surat rekomendasi dinas menyebabkan krisis energi dan mengancam mata pencaharian para nelayan.
SuaraJatim.id - Sejak Senin (29/6/2026), hamparan laut perairan Pamekasan yang biasanya menjadi ladang nafkah kini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Setetes bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kini mendadak jadi barang mewah.
Frustrasi karena tiga hari tak bisa melaut, para nelayan akhirnya berlabuh di Gedung DPRD Pamekasan. Pada Rabu (1/7/2026), mereka mengadu, membawa keresahan tentang dapurnya yang terancam berhenti mengepul akibat kelangkaan solar.
Rico Hendriyo, seorang nelayan asal Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, menumpahkan kekecewaannya. Ia menceritakan ironi yang dialami rekan-rekannya di lapangan.
Padahal, para nelayan sudah membekali diri surat rekomendasi resmi dari Dinas Perikanan sebagai syarat membeli solar subsidi.
Namun, di SPBU Asem Manis, surat itu mendadak kehilangan "kesaktiannya". Larangan pengisian solar menggunakan jeriken, yang kabarnya merupakan arahan dari pihak kepolisian, menjadi tembok penghalang bagi para pencari ikan ini.
"Biasanya kami masih bisa dapat meski terbatas. Sekarang sama sekali tidak. Pihak SPBU melarang pengisian jerigen atas saran kepolisian, padahal kami bawa surat rekomendasi resmi. Bahkan ada nelayan yang datang sendiri membawa surat itu, tetap saja ditolak," keluh Rico dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Bagi nelayan, jeriken adalah satu-satunya penyambung nyawa. Tanpanya, mustahil membawa solar dari SPBU ke perahu yang bersandar di dermaga.
Pemandangan kontras terlihat di berbagai sudut kota Pamekasan. Saat di dermaga suasana sepi, di SPBU justru sebaliknya. Antrean kendaraan, mulai dari motor, mobil pribadi, hingga truk, mengular panjang hingga meluber ke badan jalan.
Kelangkaan ini rupanya telah merembet menjadi krisis energi lokal. Petugas SPBU mengakui bahwa jatah Biosolar yang mereka terima setiap hari kian terbatas, sementara permintaan masyarakat terus melonjak tak terbendung.
Baca Juga: Hanya Perahu yang Kembali: Teka-teki Hilangnya Amsuri di Laut Pulau Raas Sumenep
Bagi Rico dan kawan-kawannya, setiap hari tanpa solar adalah hari tanpa penghasilan. Mereka kini hanya bisa berharap Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum segera duduk bersama mencari jalan tengah.
"Kami hanya ingin kembali bekerja normal. Kami butuh solusi nyata agar distribusi solar subsidi untuk nelayan bisa kembali lancar," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Hanya Perahu yang Kembali: Teka-teki Hilangnya Amsuri di Laut Pulau Raas Sumenep
-
Ombak 2,5 Meter, Nelayan Prigi Terpaksa Menepi di Tengah Musim Ikan
-
Belum Punya Gedung, Siswa SRMP 29 Pamekasan Harus Pindah Belajar ke Sampang
-
Pelarian Bos Travel Umrah Pamekasan yang Menipu Belasan Jemaah Berakhir di Pasuruan
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
- Warga Makassar Mengaku Diminta Bayar Rp500 Ribu Urus Surat Waris
Pilihan
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
-
Listyo Diberhentikan, Suyudi Dilantik Prabowo Siang Ini Jadi Kapolri Baru Usai Disetujui DPR
Terkini
-
Bayar Rp546,5 Juta, 17 Calon Jamaah Umrah di Ngawi Kena Tipu, Gagal Berangkat Sesuai Jadwal
-
Ganjal ATM Pakai Tusuk Gigi, Komplotan Residivis Gasak Uang Nasabah di Jatim
-
Khofifah Dorong Museum Mpu Tantular Jatim lewat Kolaborasi dengan Rahmat Museum
-
Bikin Anak-Anak Gampang Beli Miras, Toko 'Nakal' di Pemukiman Wonokromo Disegel Satpol PP Surabaya
-
Gapasdap Usulkan Infrastruktur Ketapang-Gilimanuk Masuk Proyek Strategis Nasional