Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:22 WIB
Krisis air bersih mulai melanda Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, akibat musim kemarau yang menyebabkan sumur-sumur warga mengering. [Beritajatim]
Baca 10 detik
  • Musim kemarau menyebabkan sumur warga Desa Kiyonten, Ngawi, mengering dan memicu krisis air bersih sejak Juli 2026.
  • Lebih dari sepuluh kepala keluarga terpaksa menggali lubang di dasar sungai dan menyaring air keruh untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Warga berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih serta membangun sarana penyediaan air untuk mengatasi kekeringan berulang.

SuaraJatim.id - Krisis air bersih mulai melanda Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, akibat musim kemarau yang menyebabkan sumur-sumur warga mengering.

Sedikitnya lebih dari 10 kepala keluarga (KK) terpaksa menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut terjadi hingga Jumat (31/7/2026). Selama sekitar satu bulan terakhir, warga mengaku kesulitan memperoleh air bersih karena sumber air di lingkungan permukiman terus menyusut.

Lubang-lubang yang digali di dasar sungai dimanfaatkan sebagai tempat munculnya rembesan air. Meski demikian, air yang diperoleh dalam kondisi keruh sehingga harus disaring terlebih dahulu sebelum digunakan.

Air hasil penyaringan itu kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, hingga air minum.

Salah seorang warga, Sutini, mengatakan air yang diambil dari dasar sungai tidak dapat langsung digunakan karena kualitasnya kurang bersih. Namun, warga tidak memiliki pilihan lain setelah sumur-sumur di desa mengering.

"Sampai rumah nanti disaring karena kotor. Sudah sebulan ini sulit air," ujar Sutini melansir Beritajatim--jaringan Suara.com.

Keluhan serupa disampaikan Parlan. Menurutnya, seluruh sumur warga sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air sehingga masyarakat harus mencari sumber air alternatif di sekitar aliran sungai.

"Sulit air, Mas. Sumur pada kering, larinya ya ke sini, ke belik, supaya bisa dapat air," katanya.

Baca Juga: 52 Desa di Trenggalek Alami Kekeringan: Hujan Singkat Belum Bisa Penuhi Ketersediaan Air

Selain menggali lubang di dasar sungai, sebagian warga juga mencari air hingga ke sendang yang berada di kawasan hutan. Upaya tersebut dilakukan karena hingga kini belum ada distribusi bantuan air bersih yang masuk ke Desa Kiyonten.

Kondisi itu membuat beban masyarakat semakin berat. Selain harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk memperoleh air, warga juga harus memastikan air yang didapat layak digunakan dengan cara menyaringnya terlebih dahulu.

Krisis air bersih tersebut berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga. Pasokan air dibutuhkan tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk memasak, mandi, mencuci, dan keperluan sehari-hari lainnya.

Warga menyebut kekeringan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau, Desa Kiyonten kerap mengalami krisis air bersih akibat sumur-sumur warga mengering sehingga masyarakat kembali bergantung pada sumber air alternatif.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah desa segera menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau. Selain penanganan darurat melalui distribusi air, warga juga menginginkan adanya solusi jangka panjang, seperti pembangunan sarana penyediaan air bersih, penampungan air, serta pengembangan sumber air agar persoalan kekeringan yang berulang dapat diatasi secara berkelanjutan.

Load More