- BPS Jatim melaporkan 26.320 orang lepas dari pengangguran antara Februari hingga Mei 2026.
- Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mendominasi penyerapan tenaga kerja terbesar dengan mencapai 31,77 persen.
- Lulusan SMK mencatatkan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 5,79 persen akibat ketidaksesuaian keahlian industri.
SuaraJatim.id - Angin segar kembali bertiup di pasar tenaga kerja Jawa Timur. Dalam kurun waktu tiga bulan saja, tepatnya dari Februari hingga Mei 2026, sebanyak 26.320 orang berhasil melepas status pengangguran mereka.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, jumlah pengangguran kini melandai di angka 866,32 ribu orang.
Meski angkanya terlihat besar, secara persentase, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jatim kini hanya tersisa 3,42 persen, turun tipis namun berarti dibandingkan periode sebelumnya.
Di tengah gemerlap digitalisasi dan industri, Jawa Timur rupanya masih sangat bergantung pada tanah dan lautnya. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyelamat utama dengan menyerap 31,77 persen tenaga kerja. Disusul kemudian oleh sektor perdagangan (18,63%) dan sektor industri (14,64%).
"Jika dibandingkan dengan Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja justru bertambah sebanyak 205,53 ribu orang. Ini sebuah tren positif bagi ekonomi kita," ujar Plt. Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, dalam konferensi pers di Surabaya, Rabu (5/8/2026).
Namun, di balik kabar gembira tersebut, terselip PR besar bagi dunia pendidikan. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang sejatinya didesain siap kerja, justru menduduki urutan tertinggi dalam daftar pengangguran, yakni sebesar 5,79 persen.
Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara keahlian yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri saat ini.
Selain itu, potret partisipasi kerja berdasarkan gender juga menunjukkan jurang yang lebar. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki mencapai 87,80 persen, jauh melampaui perempuan yang berada di angka 62,73 persen.
Artinya, masih banyak potensi tenaga kerja perempuan yang belum terserap atau memilih tidak terjun ke pasar kerja formal.
Baca Juga: 92 Ribu Warga Jatim Lepas dari Kemiskinan, Apa Rahasianya?
Saat ini, Jawa Timur memiliki 25,32 juta penduduk angkatan kerja. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk usia produktif, tantangan ke depan bukan hanya soal menciptakan lapangan kerja, tapi juga memastikan kualitas lulusan pendidikan sesuai dengan pasar.
Sektor-sektor seperti real estat, penyediaan listrik, dan pengelolaan sampah memang masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah kecil (di bawah 1 persen).
Namun, seiring dengan pembangunan infrastruktur, sektor-sektor ini diharapkan bisa menjadi motor baru bagi mereka yang masih mencari celah di dunia kerja. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Politisi Gerindra Singgung Penyandang Dana Kasus Penyadapan Prabowo, Siapa Dia?
-
Hujan Mulai Turun, 1.789 Warga Ngawi Masih Krisis Air Bersih
-
Polisi Ungkap Hasil Tes DNA 15 Fragmen Tulang Pembunuhan Ibu dan Anak Madiun
-
GM FKPPI Jatim Desak Aktor Intelektual Dugaan Penyadapan Prabowo Dibongkar
-
Media Luar Negeri Ikut Soroti Penangkapan Listyo Sigit Prabowo