Wakos Reza Gautama
Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:22 WIB
Ilustrasi pertanian. BPS Jatim melaporkan 26.320 orang lepas dari pengangguran antara Februari hingga Mei 2026. [Dok YARI-IPB]
Baca 10 detik
  • BPS Jatim melaporkan 26.320 orang lepas dari pengangguran antara Februari hingga Mei 2026.
  • Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mendominasi penyerapan tenaga kerja terbesar dengan mencapai 31,77 persen.
  • Lulusan SMK mencatatkan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 5,79 persen akibat ketidaksesuaian keahlian industri.

SuaraJatim.id - Angin segar kembali bertiup di pasar tenaga kerja Jawa Timur. Dalam kurun waktu tiga bulan saja, tepatnya dari Februari hingga Mei 2026, sebanyak 26.320 orang berhasil melepas status pengangguran mereka.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, jumlah pengangguran kini melandai di angka 866,32 ribu orang.

Meski angkanya terlihat besar, secara persentase, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jatim kini hanya tersisa 3,42 persen, turun tipis namun berarti dibandingkan periode sebelumnya.

Di tengah gemerlap digitalisasi dan industri, Jawa Timur rupanya masih sangat bergantung pada tanah dan lautnya. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyelamat utama dengan menyerap 31,77 persen tenaga kerja. Disusul kemudian oleh sektor perdagangan (18,63%) dan sektor industri (14,64%).

"Jika dibandingkan dengan Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja justru bertambah sebanyak 205,53 ribu orang. Ini sebuah tren positif bagi ekonomi kita," ujar Plt. Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, dalam konferensi pers di Surabaya, Rabu (5/8/2026).

Namun, di balik kabar gembira tersebut, terselip PR besar bagi dunia pendidikan. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang sejatinya didesain siap kerja, justru menduduki urutan tertinggi dalam daftar pengangguran, yakni sebesar 5,79 persen.

Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara keahlian yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri saat ini.

Selain itu, potret partisipasi kerja berdasarkan gender juga menunjukkan jurang yang lebar. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki mencapai 87,80 persen, jauh melampaui perempuan yang berada di angka 62,73 persen.

Artinya, masih banyak potensi tenaga kerja perempuan yang belum terserap atau memilih tidak terjun ke pasar kerja formal.

Baca Juga: 92 Ribu Warga Jatim Lepas dari Kemiskinan, Apa Rahasianya?

Saat ini, Jawa Timur memiliki 25,32 juta penduduk angkatan kerja. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk usia produktif, tantangan ke depan bukan hanya soal menciptakan lapangan kerja, tapi juga memastikan kualitas lulusan pendidikan sesuai dengan pasar.

Sektor-sektor seperti real estat, penyediaan listrik, dan pengelolaan sampah memang masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah kecil (di bawah 1 persen).

Namun, seiring dengan pembangunan infrastruktur, sektor-sektor ini diharapkan bisa menjadi motor baru bagi mereka yang masih mencari celah di dunia kerja. (ANTARA)

Load More