- Kepala SPPG dan relawannya terlibat perkelahian akibat minuman keras di warung Jember pada Agustus 2026.
- Camat Sumberbaru mengonfirmasi insiden tersebut terjadi pada Sabtu dini hari tanggal 15 Agustus 2026.
- Anggota DPRD Jember Ahmad Hoirozi geram dan meminta unit pelayanan gizi tersebut segera ditutup total.
SuaraJatim.id - Ironi pahit terjadi di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Seorang kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terlibat perkelahian sengit dengan relawannya sendiri. Alih-alih meracik nutrisi, sang pimpinan justru terjerumus dalam keributan beraroma minuman keras.
Insiden memalukan itu pecah pada Sabtu dini hari (15/8/2026), sekitar pukul 03.00 WIB. Di saat warga sedang terlelap, sebuah warung remang menjadi saksi bisu adu jotos antara dua orang yang seharusnya bekerja sama demi gizi masyarakat.
Camat Sumberbaru, Farid Wajdi, baru mencium aroma keributan tersebut saat hendak menghadiri kegiatan Kirab Merah Putih.
Berdasarkan informasi yang ia terima, alkohol menjadi pemicu utama sang kepala SPPG kehilangan akal sehat hingga menyerang anak buahnya.
"Kejadiannya Sabtu dini hari jam 03.00 WIB di sebuah warung," ujar Farid saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Meski belakangan dikabarkan kedua belah pihak telah berdamai pada 18 Agustus lalu, namun luka pada integritas program ini terlanjur menganga.
SPPG di Sumberbaru sebenarnya merupakan unit yang baru saja berdiri. Misinya melayani kebutuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di bawah lima tahun. Namun, insiden mabuk-mabukan ini membuat kepercayaan publik anjlok seketika.
Reaksi keras pun datang dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Jember, Ahmad Hoirozi, mengaku geram dengan perilaku oknum pejabat SPPG tersebut. Baginya, perilaku tersebut adalah penghinaan terhadap nilai-nilai integritas dan pelayanan publik.
"Kami segera turun ke lokasi. Kalau seperti itu, ya ditutup saja sekalian! Minum miras itu tidak baik," tegas Rozi.
Baca Juga: Detik-Detik Mobil SPPG Magetan Terguling Usai Hantam Tiang Wi-Fi
Menurut Rozi, seorang kepala SPPG bukan sekadar pengelola administratif, melainkan figur yang harus memberikan teladan bagi masyarakat dan relawannya. Ia menilai tidak ada toleransi bagi sosok pimpinan yang tidak bisa menjaga etika.
“Fatal itu kalau kepala dapur mabuk-mabukan. Seharusnya dia memiliki perilaku baik dan berintegritas. Jika memang benar seperti itu kejadiannya, lebih baik (unitnya) ditutup,” tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Sopir Towing Ngantuk di Lajur Cepat, 5 Kendaraan Tabrakan Karambol di Tol Sumo
-
Kabar Duka: Nyai Hj Mahfudhoh Putri Pendiri NU KH Wahab Chasbullah Wafat di Usia 82 Tahun
-
Komplotan Curanmor di Surabaya Gunakan Kode Siulan Saat Beraksi, Tiga Residivis Ditangkap
-
Terjerat Dugaan Pungli, Oknum Lurah di Surabaya Dicopot Jadi Staf Perpustakaan
-
Dituding Santet Anaknya, Kakek 70 Tahun di Sampang Dihabisi Tetangga: Pelaku Tidak Menyesal