Wakos Reza Gautama
Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:55 WIB
Ilustrasi Kepala SPPG dan relawannya terlibat perkelahian akibat minuman keras di warung Jember pada Agustus 2026.
Baca 10 detik
  • Kepala SPPG dan relawannya terlibat perkelahian akibat minuman keras di warung Jember pada Agustus 2026.
  • Camat Sumberbaru mengonfirmasi insiden tersebut terjadi pada Sabtu dini hari tanggal 15 Agustus 2026.
  • Anggota DPRD Jember Ahmad Hoirozi geram dan meminta unit pelayanan gizi tersebut segera ditutup total.

SuaraJatim.id - Ironi pahit terjadi di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Seorang kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terlibat perkelahian sengit dengan relawannya sendiri. Alih-alih meracik nutrisi, sang pimpinan justru terjerumus dalam keributan beraroma minuman keras.

Insiden memalukan itu pecah pada Sabtu dini hari (15/8/2026), sekitar pukul 03.00 WIB. Di saat warga sedang terlelap, sebuah warung remang menjadi saksi bisu adu jotos antara dua orang yang seharusnya bekerja sama demi gizi masyarakat.

Camat Sumberbaru, Farid Wajdi, baru mencium aroma keributan tersebut saat hendak menghadiri kegiatan Kirab Merah Putih.

Berdasarkan informasi yang ia terima, alkohol menjadi pemicu utama sang kepala SPPG kehilangan akal sehat hingga menyerang anak buahnya.

"Kejadiannya Sabtu dini hari jam 03.00 WIB di sebuah warung," ujar Farid saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Meski belakangan dikabarkan kedua belah pihak telah berdamai pada 18 Agustus lalu, namun luka pada integritas program ini terlanjur menganga.

SPPG di Sumberbaru sebenarnya merupakan unit yang baru saja berdiri. Misinya melayani kebutuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di bawah lima tahun. Namun, insiden mabuk-mabukan ini membuat kepercayaan publik anjlok seketika.

Reaksi keras pun datang dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Jember, Ahmad Hoirozi, mengaku geram dengan perilaku oknum pejabat SPPG tersebut. Baginya, perilaku tersebut adalah penghinaan terhadap nilai-nilai integritas dan pelayanan publik.

"Kami segera turun ke lokasi. Kalau seperti itu, ya ditutup saja sekalian! Minum miras itu tidak baik," tegas Rozi.

Baca Juga: Detik-Detik Mobil SPPG Magetan Terguling Usai Hantam Tiang Wi-Fi

Menurut Rozi, seorang kepala SPPG bukan sekadar pengelola administratif, melainkan figur yang harus memberikan teladan bagi masyarakat dan relawannya. Ia menilai tidak ada toleransi bagi sosok pimpinan yang tidak bisa menjaga etika.

“Fatal itu kalau kepala dapur mabuk-mabukan. Seharusnya dia memiliki perilaku baik dan berintegritas. Jika memang benar seperti itu kejadiannya, lebih baik (unitnya) ditutup,” tambahnya.

Load More