Budi Arista Romadhoni
Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:33 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. [YouTube/Prabowo Subianto]
Baca 10 detik
  • Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf membuka Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Kamis, 27 Agustus 2026.
  • Gus Yahya menegaskan NU harus memperkuat kerja sama dengan pemerintah guna menyalurkan program pembangunan secara efektif kepada masyarakat.
  • Dengan jumlah warga mencapai lebih dari 120 juta jiwa, NU berkomitmen menjadi kekuatan sosial penyangga kehidupan bangsa.

SuaraJatim.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan Nahdlatul Ulama tidak bisa berjalan sendiri dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ke depan, NU harus memperkuat kerja sama dengan pemerintah sekaligus mengambil peran sebagai penyangga kehidupan bangsa.

Penegasan itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Kamis (27/8/2026).

“Tidak ada jalan lain bahwa organisasi ini harus bekerja sama dengan pemerintah,” tegas Gus Yahya dalam sambutannya.

Menurut dia, kolaborasi NU dengan pemerintah tidak cukup berhenti pada hubungan kelembagaan. Kerja sama harus diterjemahkan melalui koordinasi program dan penguatan kapasitas pengurus agar manfaat kebijakan pemerintah dapat benar-benar sampai kepada masyarakat.

Gus Yahya menilai pengurus NU di berbagai tingkatan memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara agenda pemerintah dan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.

“Bagaimana ke depan para pengurus NU dapat dikembangkan kinerjanya, dikembangkan kapasitasnya, sehingga akan menjadi penghantar yang lebih efektif dalam membantu membawakan manfaat dari program-program dan agenda pemerintah untuk rakyat kepada rakyat,” ujarnya.

Ia menegaskan, jaringan NU yang luas merupakan modal sosial besar. Namun, kekuatan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab yang tidak kecil.

Gus Yahya menyebut jumlah warga NU diperkirakan mencapai lebih dari 120 juta orang atau sekitar 57 persen dari total penduduk muslim Indonesia yang diperkirakan mencapai 244 juta jiwa.

“Ini adalah konstituensi yang sangat besar dan sekaligus tanggung jawab yang luar biasa besar,” katanya.

Baca Juga: Pesan Sakral Kiai Sepuh Jelang Muktamar Ke-35 NU

Karena itu, Gus Yahya mendorong agar kekuatan jumlah warga NU tidak hanya dipandang sebagai besarnya basis organisasi, tetapi harus dikelola menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi bangsa.

Selain memperkuat hubungan dengan pemerintah, Gus Yahya menekankan pentingnya menghidupkan kembali prinsip ta’awun atau saling membantu sebagai landasan kehidupan sosial.

Menurut dia, semangat tersebut telah menjadi bagian dari pemikiran para pendiri NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari yang dituangkan dalam Qanun Asasi NU.

Gus Yahya mengatakan semangat ta’awun membuat masyarakat tidak terjebak dalam perebutan kekuasaan maupun kedudukan. Sebaliknya, seluruh elemen diarahkan untuk membangun kekuatan bersama.

“Semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama,” ujarnya.

Nilai tersebut, lanjut dia, tidak boleh hanya berhenti di lingkungan internal warga NU. Semangat saling membantu harus diperluas menjadi kekuatan sosial yang melibatkan seluruh elemen bangsa.

Load More