- Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo keracunan massal setelah menyantap makan siang program gratis pada Selasa, 1 September 2026.
- Dinas Kesehatan dan kepolisian telah mengambil sampel makanan untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
- Pihak pesantren meminta evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur sementara distribusi makanan dihentikan sementara waktu.
Awalnya hanya dua santri yang mengeluhkan pusing. Tidak lama kemudian, jumlahnya bertambah.
Menjelang pukul 16.30 WIB, laporan mengenai santri yang mengalami keluhan mulai datang dari berbagai kamar dan asrama.
Pihak pesantren kemudian berkoordinasi dengan puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah daerah.
Malam itu, jumlah santri yang mengalami keluhan terus meningkat.
Bahron menyebut jumlah awal mencapai sekitar 450 santri. Namun setelah Subuh, laporan baru kembali berdatangan dari asrama.
"Ada keluhan lagi laporan dari asrama sekitar 70-an. Ya mungkin 500 lah," katanya.
Jumlah tersebut masih berdasarkan pendataan sementara dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
Ketika Program Nasional Berhadapan dengan Realitas di Lapangan
Di tengah penanganan ratusan santri, satu pertanyaan besar kini muncul: bagaimana sebuah program pemberian makanan dalam skala besar memastikan setiap rantai penyajiannya benar-benar aman?
Baca Juga: 293 Santri di Sidoarjo Keracunan MBG, 8 Orang Kondisi Berat
Pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam menegaskan tetap mendukung program MBG. Namun kejadian ini, menurut mereka, harus menjadi alarm untuk memperketat pengawasan.
Bahron mengatakan evaluasi terhadap standar operasional prosedur harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat.
"Yang jelas dari kami, kami sangat mendukung program dari pemerintah, tapi tetap harus ada evaluasi dan harus ada kontrol dari SOP-nya," ujarnya.
Menurutnya, rekam jejak penyedia makanan selama ini dinilai baik. Namun, kejadian yang menimpa ratusan santri menunjukkan pengawasan tidak boleh hanya bergantung pada catatan masa lalu.
Sebab dalam layanan makanan massal, satu celah kecil berpotensi menimbulkan dampak besar.
Mulai dari bahan baku, proses pengolahan, kebersihan peralatan, waktu distribusi hingga kondisi makanan sebelum dikonsumsi, semuanya menjadi mata rantai yang tidak boleh putus dari pengawasan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Terkini
-
Berawal dari Urus SIM hingga Nikah Siri, Hubungan Gelap Oknum Polisi di Tulungagung Kena Sidang Etik
-
Kisah Pilu Sopir dan Kernet Asal Mojokerto yang Terpisah saat KM Virgo Transport 8 Mulai Tenggelam
-
Kunjungi SCCR Indonesia, Gubernur Khofifah Dorong Penguatan Riset Kesehatan di Jatim
-
Polda Jatim Siagakan Posko DVI, 20 Personel Disiapkan untuk Penanganan KM Virgo Transport 8
-
Petugas Berjibaku Padamkan Karhutla di Lereng Gunung Lawu, Api Terlihat di Titik Ini