Wakos Reza Gautama
Selasa, 22 September 2026 | 07:50 WIB
Munawi (53), warga Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Munawi, koki kapal KM Virgo Transport 8 asal Mojokerto, selamat setelah kapalnya tenggelam di perairan Masalembo pada Minggu dini hari (13/9/2026).
  • Ia bersama enam orang lainnya terombang-ambing selama sembilan jam di laut sebelum akhirnya dievakuasi oleh perahu nelayan asal Pati.
  • Korban kemudian dijemput TNI AL untuk penanganan medis, sementara Munawi sempat dirawat tiga hari akibat syok berat dan tekanan darah ekstrem.

SuaraJatim.id - Sembilan jam terombang-ambing di ganasnya Laut Jawa bukan sekadar perkara bertahan dari dinginnya malam, melainkan pertarungan melawan batas ketahanan tubuh manusia.

Di tengah pekatnya perairan Masalembo, Munawi (53) menatap maut berkali-kali sembari menelan air laut yang bercampur pekatnya tumpahan solar.

Munawi adalah koki kapal KM Virgo Transport 8, satu dari segelintir penumpang yang berhasil selamat dari tragedi tenggelamnya kapal feri rute Surabaya–Banjarmasin tersebut.

Ditemui di kediamannya di Dusun Bungkem, Desa Kweden Kembar, Mojokerto, pria paruh baya itu masih mengingat jelas aroma petaka yang datang tiba-tiba pada Minggu (13/9/2026) dini hari.

Malam itu berjalan biasa saja. Sebagai koki, Munawi telah menyelesaikan tugasnya menyajikan makan malam untuk ratusan penumpang dan sopir logistik. Sekitar pukul 23.00 WIB, ia tertidur pulas di kamarnya.

Namun, tepat pukul 01.00 WIB, tidur lelapnya dirobek oleh teriakan histeris: kapal tenggelam! Saat Munawi membuka mata, air laut sudah merangsek masuk ke dalam kabin hingga setinggi dada orang dewasa.

"Saya minta semua jangan panik dan langsung pakai rompi pelampung. Sekitar 15 menit kemudian, kapal mengalami blackout total. Gelap gulita," ujar Munawi dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Tak lama setelah listrik mati, dinding kapal dihantam ombak setinggi tiga meter. Guncangan dahsyat itu membuat kapal miring tajam. Tubuh Munawi terpental hebat, memisahkannya dari rekan-rekan satu kamar.

Dalam kegelapan pekat dan air yang terus menenggelamkan geladak, ia meraba jalan keluar, bertaruh nasib dengan waktu.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Gelar Pasar Murah ke-139 di Mojokerto, Dekatkan Akses Bahan Pokok Terjangkau

Berhasil keluar dari jebakan badan kapal, ujian Munawi belum usai. Di tengah gulungan ombak, kedua tangannya mendadak kram hebat akibat dingin dan panik. Di ambang kepasrahan, ia melihat sekelebat bayangan sekoci biru mengapung.

Dengan sisa tenaga terakhir, ia mengayuh tubuhnya menembus gelombang dan berhasil meraih sekoci tersebut. Di sana, enam orang lainnya sudah menggigil ketakutan.

"Pikiran saya cuma satu: bersholawat. Selama sembilan jam kami terombang-ambing tanpa makan. Karena kehausan, saya terpaksa meminum air laut. Tenggorokan rasanya terbakar, apalagi kepala saya sempat terkena tumpahan solar dan ikut terminum," ungkapnya.

Harapan hidup mereka berkejaran dengan waktu, mengingat daya apung rompi pelampung kian melemah setelah berjam-jam terendam air laut.

Titik terang akhirnya muncul menjelang siang. Sebuah perahu nelayan asal Pati, Jawa Tengah, melintas di titik koordinat mereka.

Ketujuh korban di sekoci itu langsung dievakuasi ke atas kapal nelayan, yang ternyata telah lebih dulu menyelamatkan 22 korban lainnya.

Load More