Wakos Reza Gautama
Jum'at, 23 Oktober 2026 | 13:11 WIB
Rombongan penari Gandrung Sewu asal Palembang dan Lampung, yang selamat dari kebakaran KMP Batumandi di perairan sekitar Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, akhirnya tiba di Banyuwangi, Kamis (22/10/2026). [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Rombongan penari Gandrung Sewu asal Palembang dan Lampung yang sempat terjebak dalam insiden kebakaran tragis KMP Batumandi di Pelabuhan Merak tiba di Banyuwangi
  • Kedatangan lima penari bersama para pendampingnya ini disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
  • Rencananya para penari akan tampil di pentas Gandrung Sewu

SuaraJatim.id - Kobaran api di Selat Sunda boleh saja melalap habis mobil dan kostum kebanggaan mereka hingga jadi abu. Namun, maut sekalipun rupanya tak sanggup memadamkan api kecintaan para penari muda asal Sumatra ini terhadap budaya tanah leluhur.

Rombongan penari Gandrung Sewu asal Palembang dan Lampung yang sempat terjebak dalam insiden kebakaran tragis KMP Batumandi di Pelabuhan Merak, akhirnya menginjakkan kaki di Kabupaten Banyuwangi, Kamis (22/10/2026) sore.

Kedatangan lima penari bersama para pendampingnya ini disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Isak tangis dan rasa haru tak terbendung saat orang nomor satu di Banyuwangi itu merengkuh para seniman muda yang masih dirundung trauma dan luka ringan tersebut.

Peristiwa mengerikan itu berawal pada Selasa pagi. Delapan penari bertolak menempuh jalur darat dari Sumatra menuju Jawa, terbagi dalam dua rombongan.

Nahas bagi rombongan kedua yang beranggotakan lima penari. Saat feri KMP Batumandi nyaris merapat di Pelabuhan Merak, Banten, kobaran api mendadak mengamuk di geladak kapal.

Mobil yang mereka tumpangi ludes terbakar bersama seluruh isi di dalamnya seperti dokumen KTP, koper pakaian, hingga selendang, kipas, dan kostum Gandrung yang telah mereka siapkan berbulan-bulan.

Ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sumatera Selatan, Suroso, mengisahkan detik-detik emosional usai proses evakuasi darurat di Pelabuhan Merak. Di hadapan puing-puing barang mereka yang musnah, Suroso menyodorkan pilihan pahit kepada anak-anak asuhnya.

"Saat kami dievakuasi di Merak, saya tanya langsung ke anak-anak, 'Kita pulang saja atau tetap lanjut ke Banyuwangi?'. Luar biasa, mereka kompak menjawab ingin tetap lanjut. Mereka hanya punya satu tekad harus tampil menari di Gandrung Sewu," tutur Suroso dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Baca Juga: Wadah Krim Wajah Jadi Kedok, Sabu 17 Gram Gagal Masuk Lapas Banyuwangi

Melihat tekad baja tersebut, solidaritas diaspora Banyuwangi langsung bergerak serempak. Ikawangi Pusat di Jakarta segera turun tangan mencarter bus dan membimbing rombongan menembus sisa ribuan kilometer menuju ujung timur Pulau Jawa.

Mendengar perjuangan luar biasa warganya di perantauan, Bupati Ipuk Fiestiandani tak kuasa menahan kekaguman.

Pemkab Banyuwangi langsung bergerak cepat mengganti seluruh kerugian yang dialami rombongan, mulai dari pengurusan KTP darurat hingga menyediakan setelan kostum Gandrung yang baru lengkap dengan kipas dan selendang.

"Saya sangat salut dan merinding. Meski masih diliputi rasa syok bahkan ada yang mengalami cedera fisik ringan, semangat mereka untuk menari di bibir Pantai Marina Boom tak luntur sedikit pun," ungkap Ipuk haru seraya menyerahkan perlengkapan tari baru kepada para peserta.

Bupati memastikan seluruh akomodasi, konsumsi, pemulihan psikologis, hingga tiket kepulangan para penari ke tanah Sumatera akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah.

Bagi Fitri, salah satu penari yang selamat dari amukan api di tengah laut, berada di tanah Banyuwangi hari ini adalah mukjizat ganda, diberi keselamatan jiwa, sekaligus diberi kesempatan menuntaskan janji kebudayaannya.

Load More