Ronald Seger Prabowo
Rabu, 04 November 2026 | 17:10 WIB
Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi. Namun, kondisi tersebut belum mampu mengakhiri krisis air bersih akibat kemarau panjang. [Beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 1.789 jiwa di 23 desa Kabupaten Ngawi masih mengalami krisis air bersih hingga Selasa (4/11/2026).
  • BPBD Kabupaten Ngawi bersama pihak terkait menyalurkan 32 ribu liter air bersih setiap hari untuk membantu warga terdampak.
  • Warga Desa Pandean mengantre bantuan 10 ribu liter air bersih dari anggota DPR RI Budi Sulistyono pada Minggu (1/11/2026).

SuaraJatim.id - Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi. Namun, kondisi tersebut belum mampu mengakhiri krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Hingga Selasa (4/11/2026), sebanyak 1.789 jiwa di 23 desa yang tersebar di tujuh kecamatan masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Warga masih bergantung pada bantuan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti terlihat di Desa Pandean, Kecamatan Karanganyar, Minggu (1/11/2026).

Puluhan warga mengantre di bak penampungan dengan membawa jeriken dan galon bekas untuk mendapatkan bantuan air bersih yang disalurkan anggota DPR RI, Budi Sulistyono atau Kanang.

Sebanyak 10 ribu liter air yang didistribusikan di desa tersebut langsung habis dalam waktu singkat. Tingginya kebutuhan membuat air bantuan menjadi tumpuan warga untuk memasak, mandi, hingga memenuhi kebutuhan ternak.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi, Partoyo, mengatakan hujan yang turun dua kali di sejumlah wilayah belum cukup memulihkan sumber air warga.

“Meski sejumlah wilayah sudah hujan, krisis air bersih di Ngawi masih berlangsung. Hujan sudah dua kali, tetapi sumur warga masih mengering,” ujarnya melansir Beritajatim--jaringan Suara.com, Ravu (4/11/2026).

Berdasarkan pendataan BPBD, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Karanganyar, Pitu, Ngawi, Bringin, Kasreman, Padas, dan Karangjati. Untuk membantu warga, BPBD bersama pihak terkait menyalurkan hingga 32 ribu liter air bersih setiap hari.

Salah satu wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah berada di Dusun Jati Suwak, Desa Suruh, Kecamatan Bringin. Selama sekitar tiga bulan terakhir, warga setempat kesulitan mendapatkan air karena sumur-sumur mereka mengering.

Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk, Truk Pekerja Aspal Terguling Hantam Rumah di Ngawi: 1 Tewas, 7 Terpental

Kepala Dusun Jati Suwak, Sugiarto, mengatakan warga kini hanya mengandalkan bantuan air dari pemerintah. Jika pasokan belum datang, sebagian warga terpaksa mencari air hingga ke pinggiran waduk.

“Warga hanya mengandalkan bantuan air. Kalau tidak ada bantuan, kami mencari air ke pinggir waduk. Hujan baru sekali, tetapi sumber air di sini justru hilang,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air tangki sebagai solusi darurat. Pembangunan sumur bor atau sumur dalam dinilai mendesak untuk menyediakan sumber air permanen, mengingat kekeringan di sejumlah wilayah Ngawi terus berulang setiap musim kemarau.

Sementara itu, BPBD Ngawi masih melanjutkan distribusi air bersih ke 23 desa terdampak. Upaya tersebut menjadi penanganan sementara sembari menunggu sumber air warga kembali pulih.

Load More