Boleh Nyoblos Pilpres, Pasien Rumah Sakit Jiwa: Luber Mas No Comment

Reza Gunadha
Boleh Nyoblos Pilpres, Pasien Rumah Sakit Jiwa: Luber Mas No Comment
Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Kabupaten Malang, sekitar 450 pasien dirawat inap di tempat ini [VOA/Petrus Riski]

"Kami juga punya hak untuk memilih, orang gila juga punya hak," tuturnya.

Suara.com - KPU mengizinkan penderita gangguan kejiwaan untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu dan Pilpres 2019 pada 17 April. Syaratnya, mereka dinyatakan siap oleh keluarga dan tim perawatya. Lantas, bagaimana pendapat mereka sendiri?

Senandung suara Ahmad Haris di halaman paviliun Kutilang terdengar cukup jelas pada siang itu. Liriknya berisi mengenai beratnya bekerja sebagai buruh bangunan.

Menyanyi adalah salah satu kegiatan yang dilakukannya sehari-sehari, selain membersihkan kamar dan paviliun serta berbincang dengan teman-temannya di ruangan yang sama.

Pria asal Malang, Jawa Timur ini adalah penderita gangguan kejiwaan atau kerap disebut sebagai “orang dengan gangguan jiwa” (ODGJ), yang merupakan penghuni Rumah Sakit Jiwa Dokter Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Jawa Timur.

Kepada Voice of America, Haris mengakui akan menggunakan hak pilihnya saat hari pencoblosan nanti. Haris adalah satu dari sekian orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih dapat menilai sebuah realita dengan baik.

“Ya iya, orang RSJ kan nyoblos, punya hak menyoblos. Ya LUBER mas, langsung, umum, bebas, rahasia Mas. No comment,” ujar Ahmad Haris.

Ahmad Haris yang lebih banyak bicara dibandingkan sesama penghuni RSJ Lawang, menegaskan punya hak sama untuk berpartisipasi dalam pemilu. Begitu juga kawan-kawannya, kata Haris.

Haris memastikan akan mencoblos calon yang telah dipilihnya, dan tidak akan golput dalam pemilu nanti.

“Kalau aku hanya menyuruh dan berusaha kasih motivasi untuk maju. Ya kasihan mereka, kan mereka juga punya hak untuk memilih, orang gila juga punya hak," tuturnya.

Ia melanjutkan, "Ada juga mantan orang gila yang jadi caleg, itu gak tahu. Nah kita juga manusia, juga warga negara Indonesia, warga negara yang baik harusnya nyoblos, eman (sayang) kalau golput eman. Di sini berobat dulu, sembuh pulang, besok aku pulang,” tutur Haris.

Sementara itu, Minarti, salah seorang penghuni lain di RSJ Lawang, mengakui tidak mengetahui kapan pemilu akan dilangsungkan. Dia mengatakan tidak didaftarkan oleh keluarganya, meskipun ingin ikut mencoblos.

“Mboten, mboten didaftaraken. Tumut menawi wonten. (Tidak, tidak didaftarkan. Ingin ikut kalau ada undangan),” kata Minarti.

Dokter Ika Nurfarida SpKJ dari RSJ Wardjiman Wediodiningrat Lawang mengungkapkan, gangguan jiwa ada beberapa kategori, di antaranya  ringan-sedang yang dapat menggunakan hak pilihnya.

Sementara pasien gangguan jiwa berat, bilamana masuk episode akut, maka orang itu tidak dapat menggunakan hak pilihnya.

Hal ini karena orang tersebut memiliki gangguan dalam menilai suatu realita. Namun, bila orang itu diobati, menjalani terapi, serta dinyatakan sembuh dan melewati fase akut, maka tidak masalah bila akan menggunakan hak pilihnya.

“Kalau selama dalam assessment realita, kami ada namanya reality test assessment, jadi itu penilaian kemampuan seseorang dalam menilai realita. Itu kalau hasilnya bagus, ya tentumya dia punya pertimbangan, ya pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan pengalaman hidupnya, seperti halnya kita kan,” terang Dokter Ika Nurfarida, SpKJ.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS