Putri Muslimah Indonesia Sebut Jamasan Keris Bukan Syirik

Dwi Bowo Raharjo
Putri Muslimah Indonesia Sebut Jamasan Keris Bukan Syirik
Putri Muslimah Indonesia Erra Fazhira, memegang salah satu keris buatan Empu Kelleng. (Suara.com/Moh Madani)

"Didalamnya juga tidak ada hal syirik, yang ada tahlil dan doa bersama."

Suara.com - Putri Muslimah Indonesia tahun 2019, Erra Fazhira, mengungkapkan bahwa jamasan keris bukanlah hal syirik atau musyrik. Ia menilai ritual penyucian benda-benda pusaka itu sebagai tradisi untuk menghargai dan melestrikan budaya dan nilai-nilai lelehur.

Contohnya kata Fazhira, seperti Jamasan Keris di Desa Aeng Tong-tong yang dilakukan pada Minggu (8/9/2019).

Menurut perempun asli Sumenep ini, Jamasan keris ini merupakan bentuk pelestarian budaya sebagai penghormatan kepada para leluhur yang telah dilestarikan turun temurun dari dulu hingga sekarang.

Dikatakan perempuan kelahiran 1998 ini, Sumenep telah dinobatkan sebgai pemilik dan pengrajin keris terbanyak di Dunia dan hal ini telah diakui oleh UNISCO sejak 2005.

"Jika kemudian ada yang menyebutnya itu musyrik, kita sebagai penerus bangsa, sebagai pemuda pemudi Sumenep akan mengedukasi mereka, bahwa itu adalah budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan," ujar Fazhira usai menjadi MC haul akbar dan jamasan keris Keraton Sumenep dan pusaka leluhur.

Finalis Sunsilk Hijab Hunt 2016 itu juga mengaku akan terus bersosialisasi terkait adanya keris di Sumenep yang telah diakui dunia agar semakin dikenal oleh khalayak publik.

"Didalamnya juga tidak ada hal syirik, yang ada tahlil dan doa bersama, yaitu bentuk syukuran dan mendoakan para sesepuh yang telah mendahului kita semua," kata dia.

Senada dengan Era Fazhira, Empu Hasyim juga mengungkapkan bahwa Jamasan keris merupakan tradisi yang dilestarikan turun temurun sejak masa lalu hingga sekarang.

Proses Penjamasan Keris di Pujuk Agung Desa Aeng Tong-tong Kecamatan Saronggi Sumenep. (Suara.com/Moh Madani)
Proses Penjamasan Keris di Pujuk Agung Desa Aeng Tong-tong Kecamatan Saronggi Sumenep. (Suara.com/Moh Madani)

Menurutnya jamasan keris ini biasanya dilakukan setiap tanggal 1 Syuro bulan Hijriyah.

"Hari ini merupakam haul akbar sekaligus proses penjamasan secara terbuka," ungkap keturunan Empu Kacang ini.

Dikatakan Empu Hasyim, sebelum penjamasan dilakukan pengambilan air dari tujuh sumber sebagai bahan untuk penjamasan keris dan dicampuri kembang tujuh rupa.

Tujuh sumber air itu diantaranya sumber air taman sare yang ada di lingkungan Keraton Sumenep, kemudian sumber air yang ada di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng, Desa Langsar, Desa Talang, Desa Aeng Tongtong dan Desa Tanah Merah Kecamatan Saronggi serta Desa Sera Kecamatan Bluto.

Kontributor : Muhammad Madani

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS