JIAD: Imbauan MUI Soal Ucapan Salam Lintas Agama Sebagai Bentuk Intoleransi

Chandra Iswinarno
JIAD: Imbauan MUI Soal Ucapan Salam Lintas Agama Sebagai Bentuk Intoleransi
Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi di gedung parlemen, Jumat (16/8/2019). (Antara)

Dalam semangat kebangsaan dan penghormatan akan perbedaan, imbauan tersebut tidak mendewasakan model keberislaman Indonesia.

SuaraJatim.id - Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) menilai imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang mengimbau pejabat publik muslim tidak perlu ucapkan salam lintas agama sebagai bentuk sikap intoleransi.

Koordinator JIAD Aan Anshori mengatakan dalam semangat kebangsaan dan penghormatan akan perbedaan, imbauan tersebut tidak mendewasakan model keberislaman Indonesia yang tengah dilanda praktek intoleransi tertinggi dalam sejarah Indonesia.

"MUI Jawa Timur secara tidak sadar seperti tengah mengkerdilkan relijiusitas Islam Indonesia," kata Aan dalam keterangan pers yang diterima kontributor Suara.com pada Senin (11/11/2019).

Aan yang merupakan aktivis Gusdurian mengatakan apabila MUI Jatim menyebut tak ucapkan salam agama lain sebagai bentuk tak mencampuradukkan ibadah dalam agama maka MUI Jatim mengesamlingkan ibadah wathaniyyah dan insaniyyah.

"Jika faktor ibadah adalah kunci yang dijadikan patokan MUI Jawa Timur, maka menjadi penting untuk memperluas cakupan ibadah. Mempersilahkan pemeluk agama lain mengucapkan assalamualaikum atau muslim muslimah menyatakan salam milik agama lain justru menjadi bagian dari ibadah wathaniyyah dan insaniyyah yang harusnya menjadi arah utama keislaman Indonesia di mana MUI Jatim bisa memainkan peranan," jelasnya.

Aan menerangkan, di dalam Alquran, tidak pernah memerintahkan atau melarang seseorang menggunakan salam milik agama lain. Namun Alquran jelas menyatakan setiap orang Islam harus menjadi rahmat bagi alam semesta dengan cara berbuat adil (adl) dan lebih baik (ihsan).

"Bagi orang Islam, mengucapkan salam milik agama lain dengan semangat memupuk persaudaraan lebih baik ketimbang bersikukuh menganggap implementasi agama sendiri lebih ketimbang yang lain," terangnya.

Sementara terkait, pernyataan MUI Jatim yang mengatakan bahwa Allah akan murka apabila ada muslim yang beriman mengucap salam dan doa selain kepada diri-Nya, menurut dia hal itu merupakan bentuk kekhawatiran saja.

"Itu merupakan hal yang berlebihan, karena Allah jelas lebih agung, lebih bijaksana, lebih pemurah, dan lebih toleran, dari yang kita persepsikan. Apa ada yang lebih diinginkan Allah ketimbang melihat ciptaannya hidup rukun tanpa kecurigaan dan ketidakdewasaan prasangka," ujarnya.

Ia pun mengimbau kepada setiap orang termasuk pejabat publik terutama yang beragama Islam untuk terus merawat keberagaman Indonesia.

"Salah satunya dengan cara tidak ragu saling menggunakan salam agama lain. Kita tetap menghormati imbauan tersebut sebagai bagian dari pembelajaran publik. Publik juga perlu dididik bahwa imbauan sifatnya tidak mengikat. Bisa diikuti, bisa tidak," tuturnya.

Kontributor : Arry Saputra

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS