Dokter Muda Corona di Surabaya Meninggal karena Pasien COVID-19 Tak Jujur

Pebriansyah Ariefana
Dokter Muda Corona di Surabaya Meninggal karena Pasien COVID-19 Tak Jujur
Ucapan turut berduka cita untuk dr. Berkatnu Indrawan Janguk, yang meninggal merawat pasien tidak jujur terkena Covid-19. (ist)

Dokter Indra tertuluar virus corona, dia menderita asma.

SuaraJatim.id - Seorang dokter muda pasien virus corona meninggal dunia di Surabaya. Dia adalah dokter dari RSUD dr. Soewandhie, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dokter muda itu meninggal, Senin (27/4/2020) malam. Dokter ini meniggal karena tertular dari pasien positif corona yang tidak jujur.

Sejumlah dokter, perawat serta tenaga medis lainnya terlihat berkumpul di parkiran rumah sakit setempat malam itu. Mereka terlihat berbaris, berjajar memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dr. Berkatnu Indrawan Janguk sebelum jenazahnya dimakamkan di salah satu tempat pemakaman umum di Surabaya.

Isak tangis pihak keluarga pun mengiringi keberangkatan jenazah almarhum dokter Indra dari rumah sakit menuju peristirahatan terakhir. Begitu juga ketika sejumlah petugas berpakaian APD (alat pelindung diri) memasukkan jenazah ke liang lahat.

"Saya ikut berduka cita atas meninggalnya dokter Indra. Almarhum merupakan mahasiswa saya saat kuliah kedokteran di UWK (Universitas Wijaya Kusuma) Surabaya," kata dosen tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Sukma Sahadewa.

Dokter asal Muara Teweh, Kalimantan Tengah yang meninggal itu semasa hidupnya memiliki kepribadian yang baik dalam pergaulan dan tekun dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter.

Dokter Indra terkenal dengan pribadi yang tulus serta tidak pernah marah dengan siapapun. Bahkan, almarhum hormat kepada para seniornya termasuk guru-gurunya di kampus tempatnya belajar kedokteran.

Sukma mengaku punya kedekatan dengan Dokter Indra semasa hidupnya. Bahkan kalau tidak ada kesibukan di rumah sakit, Dokter Indra beberapa kali sempat meluangkan waktu untuk bermain musik bersama.

"Dulu beliau sering main band bareng dengan saya. Makanya saya benar-benar kehilangan seorang teman seprofesi dan partner bermain musik," katanya.

Dokter Indra merupakan putra dari pasangan suami istri dari Suriawan Prihadi yang merupakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Utara, Kalimanten Tengah dan Inriaty Karawaheni, Asisten III Setda Barito Utara.

Koordinator Protokol Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, Dokter Indra semasa hidupnya memang memiliki riwayat penyakit asma. Tiga pekan lalu, Dokter Indra juga sempat melakukan tes swab di RSUD Soewandhie dan hasilnya dinyatakan positif COVID-19.

"Dia memang punya penyakit bawaan asma, terus kemudian kemarin itu awal swabnya positif COVID-19, terus dirawat sembuh sudah. Kemudian, swabnya negatif tiga kali," kata Febria Rachmanita.

Bahkan, kata Febria, beberapa hari terakhir saat dirawat di ICU RSUD dr. Soewandhie, kondisi Dokter Indra membaik. Bahkan, Senin (27/4/2020) pagi kondisinya juga membaik. Namun kemudian, terjadi pembengkakan pada jantungnya sehingga meninggal dunia sekitar pukul 17.46 WIB.

Febria mengatakan Dokter Indra sebelum berpulang adalah dokter yang menangani pasien COVID-19 asal Pemalang. Namun karena pasien tersebut tidak mengaku kalau positif COVID-19, akhirnya almarhum ikut terpapar.

Padahal pertama kali almarhum ambil swab itu tiga minggu yang lalu dan hasilnya positif. Terus melakukan dua kali tes swab dan dinyatakan negatif. Tapi, ternyata tubuhnya tidak bisa membentuk imun sehingga nyawanya tidak tertolong.

Menurut dia, karena Dokter Indra memiliki riwayat asma sehingga dimungkinkan seringkali membuka masker pada saat merawat pasien. Hal inilah yang kemudian Dokter Indra cepat tertular virus corona penyebab COVID-19.

Namun begitu, Febria berharap untuk ke depannya tidak ada lagi pejuang medis baik itu dokter maupun perawat yang terpapar hingga kehilangan nyawanya saat menangani pasien COVID-19.

"Perawat dan dokter adalah garda terdepan. Walaupun mereka menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap, tapi saya berharap tidak ada lagi pejuang medis yang terpapar hingga meninggal," katanya.

Tenaga medis di Surabaya yang sebelumnya meninggal dunia akibat COVID-19 adalah Hastuti Yulistiorini, perawat senior di RS Siloam Hospital Surabaya. Hastuti meninggal dunia pada 16 April 2020.

Kasus adanya pasien tidak jujur sebelumnya juga telah terjadi di RSUP dr. Kariadi Semarang pada 17 April 2020. Saat itu ada sekitar 46 tenaga medis terdiri dari dokter spesialis, perawat, tenaga penunjang medis hingga non-medis di rumah sakit setempat terpapar COVID-19.

Kepada petugas, pasien yang datang berobat tersebut tidak mengatakan bahwa dirinya baru saja berpergian dari zona merah COVID-19. Akibatnya puluhan tenaga medis tersebut tertular sehingga harus menjalani isolasi mandiri di Hotel Kesambi Hijau, Semarang selama 14 hari.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyesalkan adanya pasien yang berbohong saat berobat karena ketidakjujurannya itu mengakibatkan puluhan tenaga medis RSUP dr Kariadi Semarang terinfeksi COVID-19. Untuk itu, Ganjar meminta seluruh warga Jateng bersikap jujur agar tidak menambah jumlah orang yang positif terinfeksi virus corona jenis baru itu.

Sebelumnya juga ada pemberitaan terkait dengan ketidakjujuran pasien di RSUD Purwodadi, hingga menyebabkan 76 pegawai RSUD dinyatakan positif COVID-19 pada 10 April 2020.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengonfirmasi bahwa tidak kurang dari 24 dokter meninggal akibat virus corona, sedangkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah mengonfirmasi sekurangnya 16 perawat meninggal dunia terkait virus itu. Dari data itu, tidak kurang dari 40 tenaga kesehatan telah gugur dalam tugas berat menangani COVID-19.

Kepala Negara juga menginginkan seluruh tenaga kesehatan mendapat APD terbaik dan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo saat menyampaikan arahan dari Presiden usai rapat terbatas itu meminta jajarannya menerapkan upaya agar tidak ada lagi tenaga medis yang wafat karena menangani pasien terinfeksi virus corona.

Penekanan dari Presiden untuk memberikan perlindungan optimal kepada para dokter dan tenaga medis lain sebagai garda dengan memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis yang bertugas menangani pasien terkait COVID-19 karena tidak ingin ada lagi dokter yang wafat karena perlindungan belum maksimal.

Ketua Umum PB IDI, Daeng Mohammad Faqih meminta penunjukan rumah sakit khusus dan pendistribusian alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis lebih banyak lagi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS