Misteri Lonjakan Corona di Jawa Timur, Menkes Terawan Sampai Turun Tangan

Pebriansyah Ariefana
Misteri Lonjakan Corona di Jawa Timur, Menkes Terawan Sampai Turun Tangan
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (ketiga kiri) didampingi jajarannya mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/5). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]

Menurutnya perlu strategi baru untuk mengurangi jumlah penularan virus corona.

SuaraJatim.id - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sampai turun tangan melihat jumlah penularan virus corona di Jawa Timur terus meningkat. Menurutnya perlu strategi baru untuk mengurangi jumlah penularan virus corona.

Angka kasus positif virus corona atau Covid-19 di Jawa Timur terus melonjak setiap harinya. Berdasarkan data yang dihimpun pada Selasa (23/6/2020) kemarin, tercatat sebanyak 10.115. Jumlah itu selisih 135 dari DKI Jakarta sebanyak 10.250.

Sementara dari data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, kasus kumulatif Covid-19 di Provinsi mencapai 10.092. Dari jumlah itu 6.115 pasien masih dirawat, 753 pasien meninggal dunia dan 2.995 pasien lainnya dinyatakan sembuh.

"Saya akan mengurai apa pokok persoalannya. Kalau karena protokol kesehatan, ya protokol kesehatannya harus terus didisiplinkan. Supaya bisa mengurangi angka tertular," kata Terawan saat meninjau RSU dr Soetomo Surabaya, Rabu (24/6/2020).

Terawan mengatakan kunci memutus rantai penularan Covid-19 adalah pencegahan. Pencegahan itu bisa dilakukan dengan cara menerapkan proktol kesehatan secara disiplin.

"Kuncinya tetap harus menjaga imunitas, selain disiplin dalam protokol kesehatan, harus jaga supaya imun kita baik. Caranya imun kita baik ya tetap semangat. Kan harus tetap sehat," ujarnya.

"Preventif dan promotif melalui gerakan masyarakt hidup sehat memang harus kita promosikan terus, karena kalaupun kena tetap kondisinya tanpa gejala, tanpa sakit yang akan memberatkan beban rumah sakit. Karena bisa isolasi mandiri," imbuhnya.

Terawan juga mendorong masyarakat untuk bisa menanamkan rasa disiplin tersebut di mana saja, baik di lingkungan rumah maupun lingkungan kerja masing-masing.

"Protokol kesehatan harus sudah menjadi budaya dan melekat di hati sanubari penduduk pada pandemi Covid-19. Baik di rumah, lingkungan kerja maupun di rumah sakit," kata dia.

Terawan melanjutkan, komunikasi secara intensif dengan daerah juga terus dilakukan dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Komunikasi secara intensif dilakukan agar langkah-langkah yang dilakukan di daerah, sejalan dengan apa yang diupayakan pemerintah pusat.

"Kita bersama-sama bekerja keras dan terus berkomunikasi antara daerah dengan pusat. Sehingga kami tahu apa sih kesulitannnya sehingga tidak salah dalam penerapannya. Itulah yang paling penting supaya sinkronisasi semua hal yang kita rencanakan cocok dengan kebutuhan dan keperluan daerah," tutupnya.

Sementara itu Terawan menilai Kota Surabaya tak perlu menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali meski angka positif Covid-19 terus meningkat.

Alasan tak perlunya PSBB kembali di Surabaya karena penerapan itu bisa dilaksanakan atas permintaan pemerintah daerah setempat. Apakah daerah tersebut sanggup menerapkan atau tidak.

"Tidak. Semua namanya PSBB itu semua permintaan dari daerah, karena menyangkut kesanggupannya dalam penerapannya," kata Terawan.

Ia mengatakan, putusan soal diberlakukannya PSBB juga tak boleh semena-mena. Setiap stakeholder harus bisa mendiskusikan cara agar kasus angka positif dan kematian di wilayah itu bisa menurun.

"Tidak boleh semena-mena juga. Tinggal didiskusikan aja teknik-teknik apa yang bisa membuat kasus di surabaya ini bisa mereda turun dan terutama kasus kematiannya bisa turun, bahkan kalau bisa zero," terangnya.

Meski angka pasien positif di Surabaya terus meningkat, bukan berarti harus menerapkan PSBB. Menurut Terawan PSBB bukan satu-satunya cara untuk bisa memutus rantai penyebaran Covid-19.

Pemerintah, kata dia bisa makukan hal lain dengan cara mendisiplinkan masyarakat untuk disiplin dalam menjalankan kesehatan di mana pun dan kapan pun mereka berada.

"Tinggal didiskusikan aja teknik-teknik apa yang bisa membuat kasus di Surabaya ini bisa mereda, bisa turun. Terutama kasus kematiannya bisa turun, bahkan kalau bisa zero," jelasnya.

Kunci memutus rantai penularan Covid-19, kata Terawan adalah pencegahan. Pencegahan itu bisa dilakukan dengan cara menerapkan proktol kesehatan secara disiplin.

"Kuncinya tetap harus menjaga imunitas, selain disiplin dalam protokol kesehatan, harus jaga supaya imun kita baik. Caranya imun kita baik ya tetap semangat. Kan harus tetap sehat," ujarnya.

Hal itu pun harus dipupuk secara terus-menerus kepada masyarakat untuk bisa menanamkan rasa disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Protokol kesehatan harus sudah menjadi budaya dan melekat di hati sanubari penduduk pada pandemi Covid-19. Baik di rumah, lingkungan kerja maupun di rumah sakit," pungkasnya.

Kontributor : Arry Saputra

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS