alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

AMTI: Kenaikan Cukai Rokok Eksesif Dinilai Rugikan Petani Tembakau

M. Reza Sulaiman | Mohammad Fadil Djailani Senin, 26 Oktober 2020 | 23:42 WIB

AMTI: Kenaikan Cukai Rokok Eksesif Dinilai Rugikan Petani Tembakau
Ilustrasi rokok kretek. [Shutterstock]

AMTI mengatakan kenaikan cukai rokok bisa merugikan petani tembakau, yang tergolong sebagai industri padat karya.

SuaraJatim.id - Wacana tentang kenaikan cukai rokok eksesif tahun depan menuai reaksi dari Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI).

Penolakan AMTI didasarkan pada klaim Industri Hasil Tembakau (IHT) yang termasuk dalam industri padat karya yang melibatkan jutaan orang dari hulu hingga hilir.

Tak hanya itu, IHT merupakan sumber utama penerimaan cukai negara.

Ketua Umum AMTI Budidoyo menjelaskan ketika pemerintah menaikkan cukai sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok sebesar 35 persen di akhir 2019, masyarakat tembakau di Indonesia merasakan imbasnya, mulai dari serapan pembelian tembakau dan cengkih sebagai bahan baku dalam industri rokok hingga produksi rokok telah mengalami penurunan yang signifikan.

"Turunnya produksi dan penjualan rokok ini, turut berdampak buruk pada kesejahteraan masyarakat petani tembakau dan cengkih serta pekerja linting rokok. Apalagi situasi Pandemi COVID-19 yang memukul global dan nasional, sedikit banyak telah menggangu geliat IHT beserta petani yang terlibat di dalamnya," jelas Budidoyo dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (26/10/2020).

Untuk itu Budidoyo meminta kenaikan cukai sebaiknya disesuaikan dengan kenaikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, atau single digit.

Berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan, penurunan volume IHT secara industri diperkirakan mencapai 15-16 persen atau setara lebih dari 50 miliar batang hingga akhir 2020.

Penurunan volume tersebut berdampak besar bagi kelangsungan hidup para petani tembakau karena berimbas pada berkurangnya serapan tembakau sebesar 50.000 ton tembakau pada 50.000 hektar lahan tembakau

"Kurang bijaksana jika upaya memaksimalkan penerimaan negara hanya dibebankan kepada industri hasil tembakau. Untuk itu Pemerintah perlu menjelaskan secara transparan dan rasional alasan untuk menaikkan tarif cukai yang tinggi di saat kinerja IHT anjlok hingga dua digit," kata Budidoyo.

Atas pertimbangan diatas, AMTI mendesak Presiden Joko Widodo beserta jajaran, terutama Kementerian Keuangan, untuk mempertimbangkan kembali rencana kenaikan cukai rokok dan memberikan perlindungan terhadap Sigaret Kretek Tangan demi kelangsungan hidup pekerja linting dan juga petani tembakau dan cengkih.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait