alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ini Sikap PWNU Jatim Menanggapi Heboh Persatuan Dukun Nusantara

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Sabtu, 06 Februari 2021 | 16:05 WIB

Ini Sikap PWNU Jatim Menanggapi Heboh Persatuan Dukun Nusantara
ilustrasi. Ketua PWNU Jatim, KH Marzuqi Mustamar (tengah) menanggapi Persatuan Dukun Nusantara. [Suara.com/Arry Saputra]

PWNU Jatim menegaskan agar masyarakat tetap manut atau nurut kepada ulama.

SuaraJatim.id - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur angkat bicara terkait Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) di Banyuwangi. Meski demikian, PWNU Jatim cukup berhati-hati memberikan sikap terkait polemik berdirinya Perdunu tersebut.

Ketua PWNU Jatim, Kiai Haji Marzuqi Mustamar mengatakan, sampai saat ini dirinya belum mengetahui pasti, seperti apa gerakan Perdunu. Maka, Ia mengimbau agar masyarakat tetap percaya pada ulama.

"Perdunu, kami gak bisa komentar karena kami tidak tahu mereka kayak apa. Masyarakat yang awam tetap manut (nurut) kepada ulama. Yang ulama bimbing umat berdasarkan Quran sunnah," kata Kia Marzuqi dikonfirmasi Suara.com, Sabtu (6/2/2021).

Meski demikian, lanjut dia, istilah dukun di masyarakat itu ada yang menabrak syara' (hukum, ketentuan, atau aturan dalam Islam) dan ada yang tidak. Kata dukun mengalami perkembangan pengertian. Dicontohkanya orang yang pandai memijat juga disebut dukun.

Baca Juga: Kritik Persatuan Dukun Nusantara di Banyuwangi, Pemerhati: Banyak Mudarat

"Di masyarakat itu yang pinter mijeti (memijat) bayi ya diarani (dijuluki) dukun, yang bantu ngelahirin bayi juga diarani dukun, mbah kiai yang alim pinter ngobati dengan berdoa kepada Allah juga diarani mbah dukun. Kemudian yang mbedek-mbedek (menebak-nebak) nasib orang, sekian tahun lagi kiamat, yang tukang nyilakani wong (mencelakai orang), nyantet yo diarani dukun," jelasnya.

Namun, menurutnya, jangan memercayai orang (dukun) yang suka menebak-nebak suatu peristiwa.

"Kemudian yang mbedek-mbedek (menebak-nebak) hari kiamat hari segini, sok kemeruh (sok tahu) yang dibilang dukun. Itu yang kita gak boleh percaya," imbuhnya.

Jika percaya dan mengiyakan omongan dukun yang dimaksud, maka dipastikan syirik dan kafir.

"Kata Nabi, siapa yang sowan (mengunjungi) kepada orang yang seperti itu, lalu mempercayai omongannya dan dia yakin, maka kemudian dia menjadi syirik, menjadi kafir. Kemudian dia yang nyantet dan semacamnya jelas itu diharamkan dalam Islam," tambahnya.

Baca Juga: Heboh Rencana Festival Santet, Begini Pernyataan Lengkap Perdunu

Untuk itu, Kiai Marzuqi kembali menegaskan agar masyarakat yang awam tetap manut atau nurut kepada ulama.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait