facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Melongok Sejarah Kesenian Dongkrek, Ritual Tarian Usir Pagebluk dari Madiun

Muhammad Taufiq Selasa, 29 Juni 2021 | 13:02 WIB

Melongok Sejarah Kesenian Dongkrek, Ritual Tarian Usir Pagebluk dari Madiun
Kesenian dongkrek dari Madiun [Foto: instagram @genpiindonesia]

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia bahkan di seluruh dunia telah berlangsung hampir 2 tahun.

SuaraJatim.id - Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia bahkan di seluruh dunia telah berlangsung hampir 2 tahun. Hingga kini, seluruh penjuru dunia tengah berusaha mencari obat yang ampuh untuk menghilangkan virus asal Wuhan China itu.

Jutaan orang dari seluruh dunia pun telah menjadi korban. Di Indonesia sendiri, setidaknya sudah ada lebih dari 57 ribu orang yang meninggal dunia akibat Covid-19. Saat ini, satu-satunya cara untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 adalah dengan melakukan vaksinasi.

Terlepas dari hal tersebut, rupanya di Indonesia juga pernah mengalami kejadian serupa. Tepatnya pada tahun 1867 silam, yakni di saat kematian mendadak terjadi di banyak tempat, salah satunya di Mejayan yang kini menjadi Kecamatan Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro yang saat itu menjabat sebagai palang atau Kepala Desa yang membawahi empat desa di wilayahnya, melihat warganya mengalami kejadian yang tidak lazim. Puluhan orang meninggal secara mendadak. Pagi sakit, sore meninggal.

Baca Juga: Tulis 'Wara-wara' di Instagram, Wali Kota Madiun dan Istrinya Positif Covid-19

Sebagai orang yang dipercaya mengemban amanat penduduk desa, Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro merenungkan musibah pagebluk atau wabah yang menyerang warganya. Ia kemudian bertapa di gunung kidul Caruban. Dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit bahwa wilayahnya telah dimasuki makhluk halus yang bermaksud jahat.

Dalam wangsit yang Ia terima, Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro mendapatkan petunjuk untuk menciptakan sebuah tarian: fragmentasi kesenian untuk mengiringi punggawa roh jahat keluar dari Desa Mejayan.

Berdasarkan wangsit tersebut, Raden Lo Prawirodipuro membuat kesenian Dongkrek. Yakni kesenian musik yang digabungkan dengan tarian. Kesenian Dongkrek adalah kesimpulan yang sangat sederhana.

Diambil dari bunyi alat yang digunakan, yaitu ketika kendang dipukul akan menghasilkan bunyi "dung" dan satu alat serupa bujur sangkar dari kayu yang memiliki gigi, dimainkan dengan cara diayunkan atau diputar dan menghasilkan suara "krek". Alat musik itu diberi nama korek. Dari kedua bunyi alat musik inti tersebut, kemudian terciptalah nama kesenian Dongkrek.

Kesenian ini dibawakan oleh empat penari yang mengenakan topeng. Topeng buto atau raksasa, topeng perempuan yang diberi nama Roro Ayu dan Roro Perot yang mengunyah kapur sirih, serta topeng orang tua. Pada masing-masing karakter terdapat gambaran terkait musibah pagebluk yang menyerang Desa Mejayan.

Baca Juga: Wali Kota Madiun Positif Terpapar Covid-19: Doakan Agar Virus Segera Diangkat

Topeng buto adalah gambaran roh jahat yang memasuki wilayah Mejayan, topeng Roro Ayu adalah perempuan cantik anak pejabat yang baik dan sopan, sedangkan Roro Perot adalah pengasuh Roro Ayu yang merawat dan memenuhi perintah orang tuanya. Digambarkan sebagai penduduk desa yang menjadi sasaran roh jahat yang ingin menculiknya keluar dari wilayah tersebut.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait