Dinamika Politik Dalam dan Luar Negeri Memanas, Ini yang Harus Diantisipasi Panglima TNI

Ancaman keamanan harus bisa diantisipasi oleh Panglima TNI yang baru Jenderal Andika Perkasa

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 18 November 2021 | 15:37 WIB
Dinamika Politik Dalam dan Luar Negeri Memanas, Ini yang Harus Diantisipasi Panglima TNI
Ilustrasi kapal perang. Ancaman keamanan harus bisa diantisipasi oleh Panglima TNI yang baru Jenderal Andika Perkasa (Shutterstock)

SuaraJatim.id - Jenderal Andika Perkasa resmi dilantik menjadi Panglima TNI. Namun demikian, bukan pekerjaan mudah bagi mantan pengawal Presiden Joko Widodo tersebut. 

Ancaman keamanan, teroris, dinamika poltik dalam negeri dan ancaman daerah perbatasan menjadi pekerjaan rumah Panglima TNI yang baru. 

Pengamat Intelijen, Pertahanan, dan Keamanan Ngasiman Djoyonegoro menyampaikan bahwa Panglima TNI perlu mewaspadai meningkatnya intensitas ketegangan di Laut China Selatan (LCS) yang akan mempengaruhi dinamika pertahanan dalam negeri.

“China dan Amerika Serikat tidak henti-hentinya saling unjuk kekuatan dan kecanggihan senjata, serta adu diplomasi militer satu sama lain,” kata Simon, sapaan akrab Ngasiman Djoyonegoro, dikutip dari ANTARA di Jakarta, Kamis (18/11/2021).

Baca Juga:Serahkan Jabatan Panglima TNI ke Jenderal Andika Perkasa, Kegiatan Hadi: Mau Momong cucu

Simon memperkirakan bahwa ketegangan di Laut China Selatan akan terus terjadi, utamanya setelah Amerika Serikat bersama Inggris dan Australia membangun pakta aliansi AUKUS (Australia, United Kingdom, dan United States).

Situasi tersebut, ujar dia, perlu diwaspadai oleh TNI dengan cara yang sama pula, yaitu meningkatkan diplomasi militer dengan mempersiapkan senjata, personel, dan meningkatkan intensitas operasi patroli di kawasan LCS.

“Tidak hanya domain laut, tetapi juga udara dan darat harus diperkuat intensitas operasinya. Ini tantangan bagi Panglima TNI terpilih,” ujar dia pula.

Di samping peralatan, personel, dan intensitas operasi, TNI perlu mempersiapkan strategi diplomasi militer dengan cara bersinergi dan kolaborasi dengan semua komponen bangsa, baik lembaga negara maupun masyarakat.

Secara otomatis, karena pengaruh LCS, negara ini menjadi wilayah proxy antara China dan AUKUS. Dampak dari konflik tersebut dapat melebar pada intervensi politik, ekonomi, dan sosial.

Baca Juga:Jadi Panglima, Jenderal Andika Prioritaskan Pembenahan Internal TNI

“Aspek-aspek di luar medan pertempuran ini harus lebih diwaspadai,” kata Simon.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini