facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mulai Reda, Pasien COVID-19 di Surabaya Sekarang Hanya Tersisa 50 orang

Muhammad Taufiq Selasa, 19 April 2022 | 16:45 WIB

Mulai Reda, Pasien COVID-19 di Surabaya Sekarang Hanya Tersisa 50 orang
Ilustrasi pasien Covid-19 ditangani tenaga kesehatan (Nakes). [Istimewa]

Update kasus Covid-19 di Kota Surabaya kian menggembirakan. Saat ini saja jumlah pasien Covid-19 di sana sudah tersisa 50 orang saja.

SuaraJatim.id - Update kasus Covid-19 di Kota Surabaya kian menggembirakan. Saat ini saja jumlah pasien Covid-19 di sana sudah tersisa 50 orang saja.

Jumlah ini jelas sedikit dibanding ketika Covid-19 menggila beberapa bulan lalu. Data tersebut diungkap Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

Kepala Dinkes Surabaya Nanik Sukristina di Surabaya, mengatakan sejak tanggal 23 Maret 2022, penambahan kasus harian konfirmasi COVID-19 di Kota Surabaya, berada di bawah angka 100 (pasien).

"Dan per tanggal 06 April hingga 12 April 2022, penambahan kasus harian konfirmasi COVID-19 berada di bawah angka 50 (pasien)," kata Nanik, seperti dikutip dari Antara, Selasa (19/04/2022).

Baca Juga: Jadwal Sholat dan Jadwal Buka Puasa Wilayah Surabaya, Selasa 19 April 2022

Nanik mengatakan, berdasarkan data assesmen situasi COVID-19 di Kota Surabaya oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, pada pekan kedua bulan Maret 2022 hingga pekan kedua bulan April 2022, kasus konfirmasi COVID-19 berada di angka 53.93 persen per 100 ribu penduduk menjadi 6.76 per 100 ribu penduduk.

"Angka rawat inap rumah sakit mencapai 7.41 persen per 100 ribu penduduk, menjadi 2.29 persen per 100 ribu penduduk. Serta, angka positivity rate sebesar 8.36 persen menjadi 1.24 persen," kata dia.

Menurut dia, penyebab terjadinya penurunan kasus COVID-19 di Kota Surabaya adalah capaian program vaksinasi yang cukup baik, yakni capaian dosis primer maupun booster yang cukup signifikan, sehingga membentuk kekebalan tubuh masyarakat terhadap COVID-19.

Selain itu, lanjut dia, Dinkes Surabaya juga terus berupaya untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat, mulai pembatasan mobilitas masyarakat antar wilayah di Indonesia, hingga luar Negeri untuk meminimalisir potensi terjadinya penularan COVID-19.

"Hal ini dinilai efektif untuk menurunkan penularan COVID-19 di masyarakat, dengan terus dilakukan dievaluasi setiap dua pekan. Serta, melakukan pengawasan prokes untuk memastikan kedisiplinan masyarakat," kata dia.

Baca Juga: Taisei Marukawa Bongkar Gaji Fantastis dari PSIS Semarang, Setara Pemain Bintang di Liga Jepang

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait