Tragedi Kanjuruhan Malang: Bonek Sangat Berduka Karena Ini Indonesia

Tragedi di Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan Aremania usai laga derby Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya terasa juga sampai ke Surabaya.

Muhammad Taufiq
Minggu, 02 Oktober 2022 | 16:24 WIB
Tragedi Kanjuruhan Malang: Bonek Sangat Berduka Karena Ini Indonesia
Bonek, pendukung Persebaya Surabaya (@officialpersebaya)

SuaraJatim.id - Tragedi di Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan Aremania usai laga derby Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya terasa juga sampai ke Surabaya.

Laga itu sendiri dimenangkan Persebaya dengan sekor 2-3. Namun usai laga kerusuhan terjadi. Aremania terlibat bentrok dengan aparat TNI dan kepolisian.

Sebanyak 130 orang meninggal dunia dan sekitar 180 orang luka-luka dalam bentrokan itu. Bonek--suporter Persebaya--yang memiliki sejarah rivalitas dengan Aremania menyatakan turut berduka cita.

Kejadian itu dipastikan tak ada campur tangan suporter Persebaya. Hal itu diutarakan langsung oleh perwakilan suporter Persebaya atau Bonek, yakni Husein Ghozali.

Baca Juga:Pantas Dilarang FIFA, Ini Bahaya Gas Air Mata Menurut Pakar Kesehatan

"Kejadian ini enggak ada hubungannya sama Bonek," kata Cak Cong, dikutip dari beritajatim.com jejaring media suara.com, Minggu (2/10/2022).

Pria yang akrab disapa Cak Cong ini menyebut, Bonek tak ada yang berangkat ke Stadion Kanjurahan, Malang, saat laga dua tim besar Jawa Timur itu berlangsung.

"Mohon dipahami, kami tidak ada yang memberangkatkan (suporter, red)," jelasnya.

"Bonek tidak ada yang secara teroganisir, terstruktur berangkat ke Kanjuruhan," lanjutnya.

Pihaknya menghormati kesepakatan untuk tak saling bertandang ketika Persebaya Surabaya dan Arema FC bersua.

Baca Juga:Renggut Ratusan Nyawa, Sekjen PSSI Sayangkan Banyak Pihak Tak Bisa Menahan Diri di Kanjuruhan

"Kami menghormati kesepakatan di Polda Jatim 2006, tidak saling mengunjungi, baik Aremania maupun Bonek saat pertandingan derby ini. Kami menghormati itu," terangnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini