-
Gunung Semeru erupsi 9 kali dalam sehari disertai awan panas.
-
Awan panas guguran mengarah ke tenggara menuju aliran Besuk Kobokan.
-
Status Gunung Semeru masih siaga, warga diminta hindari zona bahaya.
SuaraJatim.id - Gunung Semeru kembali erupsi atau mengalami aktivitas vulkanik pada Sabtu (7/3/2026). Gunung Semeru erupsi disertai luncuran awan panas guguran yang mengarah ke sektor tenggara, tepatnya menuju aliran Besuk Kobokan.
Berdasarkan laporan petugas, Gunung Semeru erupsi terjadi pada pukul 10.20 WIB. Meski demikian, tinggi kolom abu dari erupsi tersebut tidak dapat diamati karena kondisi gunung yang tertutup kabut.
"Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada 7 Maret 2026 pukul 10.20 WIB, namun tinggi kolom abu tidak teramati," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulisnya.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa Gunung Semeru erupsi terekam di alat seismograf dengan amplitudo maksimum 12 milimeter. Durasi erupsi tercatat berlangsung sekitar 4 menit 35 detik.
Sigit menjelaskan, erupsi yang terjadi berupa awan panas guguran (APG). Namun, jarak luncur awan panas tidak dapat dipastikan karena puncak gunung tertutup kabut tebal.
"Erupsi berupa awan panas guguran dengan jarak luncur tidak diketahui dikarenakan gunung tertutup kabut. Mengarah ke tenggara (Besuk Kobokan)," tuturnya.
Catatan Pos Pengamatan Gunung Semeru menunjukkan aktivitas vulkanik cukup intens pada hari yang sama. Tercatat Gunung Semeru erupsi sebanyak sembilan kali sepanjang Sabtu.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.23 WIB, sedangkan erupsi kesembilan terjadi pada pukul 10.20 WIB yang juga disertai luncuran awan panas guguran.
Saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Oleh karena itu, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan oleh petugas pemantauan gunung api.
Sigit mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dengan jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.
Selain itu, warga juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru. Area tersebut berpotensi mengalami bahaya lontaran batu pijar saat terjadi peningkatan aktivitas.
Petugas juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lain yang dapat muncul dari aktivitas vulkanik tersebut.
Beberapa potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain awan panas, guguran lava, serta aliran lahar yang dapat mengalir melalui sungai atau lembah yang berhulu di puncak gunung.
Aliran yang dimaksud di antaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, potensi aliran lahar juga dapat terjadi di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.