- Sebanyak 84 siswa di Bangkalan mengalami keracunan setelah mengonsumsi paket makan bergizi gratis pada Kamis, 4 Juni 2026.
- Satgas MBG dan Dinas Kesehatan sedang menyelidiki sate sebagai sumber kontaminasi makanan setelah munculnya gejala mual dan muntah.
- Sebanyak 12 siswa masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kokop akibat dampak keracunan makanan yang mereka konsumsi tersebut.
SuaraJatim.id - Puskesmas Kecamatan Kokop, Bangkalan, tiba-tiba dibanjiri puluhan siswa yang merintih kesakitan, Kamis (4/6/2026).
Sedikitnya 84 siswa dari jenjang PAUD hingga SMA dilaporkan mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, hingga pusing yang menusuk, sesaat setelah mengonsumsi paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan pengakuan para siswa kepada petugas, menu yang disajikan siang itu sebenarnya terasa sangat nikmat. Kotak makan tersebut berisi nasi putih, sate yang menggugah selera, acar, tempe goreng, dan pencuci mulut berupa semangka segar.
“Mereka bilang makanannya enak dan dimakan sampai habis. Tidak ada kecurigaan sama sekali saat mengonsumsi,” ujar Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, Jumat (5/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Baca Juga:Dapur MBG Situbondo Terhenti: 19 Unit SPPG Mogok Akibat Masalah Limbah dan Dana Mandek
Namun, kelezatan itu hanya bertahan sekejap. Sekitar satu jam pascamakan, petaka dimulai. Satu per satu siswa bertumbangan.
Bahkan, efek racun ini menjalar hingga ke rumah-rumah penduduk. Seorang warga dilaporkan muntah-muntah hebat setelah mencicipi sisa makanan yang dibawa pulang oleh anaknya.
Kini, Satgas MBG bersama Dinas Kesehatan Bangkalan tengah melakukan investigasi. Tim medis telah mengamankan sampel makanan serta muntahan korban untuk diterbangkan ke laboratorium di Surabaya. Awalnya, tim mencurigai acar sebagai sumber kontaminasi. Namun, dugaan itu perlahan memudar.
“Banyak siswa yang tidak suka acar dan tidak memakannya, tapi mereka tetap mengalami gejala serupa. Fokus penyelidikan kini bergeser pada sate daging beserta bumbunya,” tambah Bambang.
Sorotan tajam kini tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kokop, dapur yang melayani sekitar 3.700 penerima manfaat setiap harinya.
Baca Juga:Masalah IPAL, Operasional 11 SPPG di Ponorogo Dihentikan
Pemeriksaan awal menunjukkan fasilitas pengolahan air limbah di dapur tersebut masih menggunakan sistem lama yang belum sepenuhnya selaras dengan standar terbaru.
Hingga Jumat pagi, 12 siswa masih harus menjalani perawatan intensif dan observasi medis, sementara puluhan lainnya telah diperbolehkan pulang dengan kondisi yang masih lemah.