- Jasad Nisarofatin ditemukan di gudang Desa Kandangtepus, Lumajang, pada 3 April 2026 dengan kondisi fisik yang mencurigakan.
- Hasil forensik memastikan korban meninggal akibat kekerasan tumpul pada kepala, bukan karena keracunan zat kimia berbahaya.
- Polisi belum menetapkan tersangka karena terkendala kontaminasi tempat kejadian perkara serta kurangnya dua alat bukti sah.
SuaraJatim.id - Empat bulan telah berlalu sejak jasad Nisarofatin (22) ditemukan terbujur di sebuah gudang sunyi di Dusun Tetelan, Desa Kandangtepus, Lumajang.
Namun, bagi keluarganya, waktu seolah berhenti pada malam tragis 3 April 2026 itu. Di balik rimbunnya perkebunan di Kecamatan Senduro, sebuah teka-teki besar masih menggantung. Apa yang sebenarnya terjadi pada petani muda ini?
Kasus ini kembali mencuat setelah publik mulai mempertanyakan perkembangan penyelidikan yang dianggap berjalan di tempat.
Malam itu, Sorin Abadi (34) dan pihak keluarga menemukan pemandangan yang tak akan pernah mereka lupakan. Nisarofatin tergeletak tak berdaya dengan serangkaian benda yang tak lazim berada di tubuhnya.
Baca Juga:Jejak Brutal MYF: Pembacok Samurai di Lumajang yang Ternyata Predator Pemerkosa Driver Ojol
Ada selendang bayi yang terikat di kayu usuk rumah namun dalam kondisi terputus. Ada pula lilitan ban luar kendaraan dan kabel merah yang melingkar di tubuh korban.
Saat ditemukan, busa keluar dari mulut dan hidungnya, sebuah pemandangan yang langsung memicu kecurigaan bahwa Nisarofatin tidak meninggal secara wajar.
"Sejak awal, banyak temuan janggal. Ada ban motor, ada kabel, ada selendang bayi. Kami hanya ingin kebenaran diungkap secara ilmiah," ungkap Sorin, sang pelapor.
Menanggapi kegelisahan publik, Polres Lumajang akhirnya buka suara. Kasubsi PIDM Sihumas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, menegaskan bahwa kasus ini tidak pernah dipeti-eskan.
Sebaliknya, penyidik menggunakan metode Scientific Crime Investigation (SCI), sebuah pendekatan medis dan teknis yang membutuhkan ketelitian ekstra. Hasilnya cukup mengejutkan dan mematahkan dugaan awal keluarga.
Baca Juga:Maut di Balik Live TikTok: Teka-Teki Sayatan di Pantai Permata Probolinggo Akhirnya Terungkap
"Berdasarkan uji Laboratorium Forensik (Labfor) Toksikologi, tidak ditemukan kandungan racun seperti sianida, pestisida, maupun alkohol dalam tubuh korban," jelas Ipda Suprapto.
Namun, jika bukan racun, lantas apa? Jawaban dari tim dokter forensik RS Bhayangkara Lumajang menyebut Nisarofatin meninggal akibat kekerasan tumpul pada kepala bagian depan. Hantaman itu memicu gegar otak berat hingga ia mati lemas.
Lantas, jika penyebab kematian sudah diketahui, mengapa belum ada tersangka? Di sinilah tantangan berat penyidik dimulai.
TKP awal yang ditemukan warga ternyata sempat terkontaminasi. Banyak orang yang masuk untuk memberikan pertolongan pertama sebelum polisi tiba, membuat jejak-jejak halus yang krusial menjadi samar.
Hingga kini, gelar perkara menyimpulkan bahwa polisi belum mengantongi minimal dua alat bukti sah untuk menetapkan siapa dalang di balik luka tumpul tersebut.
"Tantangan kami adalah memastikan apakah luka tumpul itu akibat perbuatan pihak lain atau ada faktor lain. Kami bekerja ekstra hati-hati agar penetapan hukum nantinya memiliki dasar yang kuat," tambah Ipda Suprapto.