Semangat kebersamaan tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan Upacara Penurunan Sang Merah Putih yang dipimpin Gubernur Khofifah pada Senin sore. Upacara berlangsung khidmat, tertib, dan lancar dengan dihadiri jajaran Forkopimda Jawa Timur, pejabat di lingkungan Pemprov Jatim, pimpinan instansi vertikal, veteran, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.
Bertindak sebagai Perwira Upacara yakni Kaprot Kogartap III/Surabaya Letkol Inf. Prasetya Hari Karyawan, S.H., M.H., sedangkan Komandan Upacara yakni Danyon Ranratfib 2 Mar Pasmar Letkol Mar Ferry Prasetiadi.
Prosesi penurunan Sang Merah Putih melibatkan Tim 8 Paskibraka Provinsi Jawa Timur Tahun 2026. Wiraditya Damar Satria asal Kabupaten Bojonegoro dari SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur bertugas sebagai pembentang bendera, sedangkan Brama Sakti Kumajaya asal Kabupaten Tulungagung dari SMAN 1 Karangrejo bertugas sebagai pengerek bendera.
Sementara itu, Hanin Amalia Prayoga asal Kota Kediri dari SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur bertugas sebagai pembawa baki. Adapun Fayra Berliana Putri asal Kabupaten Nganjuk dari SMAN 1 Tanjunganom bertugas sebagai Komandan Peleton (Danton).
Baca Juga:8 Kontribusi BRI untuk Indonesia Dalam Momentum HUT ke-81 RI
Seluruh anggota Paskibraka yang merupakan putra-putri terbaik dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur berhasil menunaikan tugas dengan baik. Kekompakan, kedisiplinan, dan ketepatan gerakan selama prosesi pengibaran maupun penurunan Sang Merah Putih mendapatkan apresiasi dari masyarakat dan undangan yang hadir.
Suasana peringatan kemerdekaan semakin semarak dengan penampilan Marching Band “Bhahana Swara Sangkakala Bhawana” dari SMAN 1 Kepanjen, Malang, tari kolosal “Reog Kyai Lodra”, serta persembahan siswi Sekolah Rakyat Banyuwangi yang berkolaborasi dengan paduan suara gabungan mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Gubernur Khofifah mengatakan, keterlibatan generasi muda melalui seni, budaya, musik, dan berbagai kreativitas tersebut menjadi bagian penting dalam memaknai kemerdekaan. Perayaan kemerdekaan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi panggung untuk menunjukkan kekayaan budaya, kreativitas, persatuan, dan kebinekaan Indonesia.
Menurutnya, keberagaman yang ditampilkan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI merupakan kekuatan yang harus terus dijaga. Persatuan dan kerukunan menjadi fondasi penting bagi Jawa Timur untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan.
“Semangat persatuan harus terus kita rawat. Tantangan ke depan membutuhkan masyarakat yang guyub, rukun dan mampu bekerja bersama. Dengan persatuan yang kuat, kita akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan sekaligus mengoptimalkan potensi Jawa Timur,” ujarnya.
Baca Juga:Gubernur Khofifah Kukuhkan 76 Paskibraka Jatim untuk HUT ke-81 RI, Tegaskan Semangat NKRI
Khofifah menegaskan, semangat kemerdekaan tidak boleh berhenti ketika rangkaian upacara berakhir. Nilai-nilai nasionalisme, persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap tanah air harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kerja, karya, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap kemeriahan peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Negara Grahadi dapat menjadi energi positif untuk terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun Jawa Timur.
“Dirgahayu Ke-81 Republik Indonesia. Mari kita rawat persatuan, kita kuatkan kolaborasi dan bersama-sama mendorong Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara untuk mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur,” pungkasnya. ***