- Pemerintah Kota Surabaya menyatakan Sesar Surabaya dan Sesar Waru memiliki potensi magnitudo maksimum masing-masing sekitar M6,7 dan M6,8.
- BPBD Kota Surabaya secara rutin memberikan edukasi mitigasi gempa kepada pelajar, fasilitas umum, dan masyarakat sejak Rabu (16/9/2026).
- Pemerintah Kota Surabaya berkoordinasi dengan ITS untuk memasang alat sensor guna memonitor aktivitas kedua sesar tersebut.
SuaraJatim.id - Di tengah padatnya aktivitas Kota Surabaya, ada ancaman yang tidak terlihat di permukaan. Dua struktur sesar aktif, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru, menjadi bagian dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Keberadaan dua sesar tersebut tidak berarti Surabaya sedang menunggu gempa besar dalam waktu dekat. Tidak ada pula data yang dapat menentukan kapan gempa akan terjadi.
Namun, justru karena waktunya tidak bisa dipastikan, keberadaan dua sesar aktif tersebut menjadi alasan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari.
Risikonya bukan semata-mata tentang seberapa besar gempa yang mungkin terjadi, tetapi bagaimana sebuah kota padat penduduk merespons ketika tanah tiba-tiba berguncang.
Baca Juga:Tidak Ada Berita Seharga Nyawa: Aksi Solidaritas Wartawan untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau
Berdasarkan data yang dipublikasikan Pemerintah Kota Surabaya dengan merujuk Peta Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) 2024, Sesar Surabaya memiliki potensi magnitudo maksimum sekitar M6,7, sedangkan Sesar Waru sekitar M6,8.
Data tersebut juga mencatat estimasi laju pergerakan sekitar 0,5 milimeter per tahun pada segmen Surabaya dan sekitar 1 milimeter per tahun pada segmen Waru.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dua struktur tersebut bukan sekadar garis yang muncul di atas peta. Keduanya merupakan bagian dari dinamika tektonik yang perlu diperhitungkan dalam tata ruang dan mitigasi bencana perkotaan.
Dua Sesar, Satu Kota yang Terus Berkembang
Pakar Geologi Dr Ir Amien Widodo, M.Si menjelaskan keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukan fenomena baru.
Baca Juga:Dipecat PDIP Usai Kunjungi Jokowi, Achmad Hidayat Singgung Eri-Armuji
Kajian mengenai struktur patahan Jawa Timur telah dilakukan sebelumnya, termasuk penelitian melalui kerja sama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM yang dipublikasikan pada 2024.
Secara geologi, Sesar Surabaya dan Sesar Waru berkaitan dengan sistem lipatan dan patahan Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Karena itu, keberadaan kedua sesar tersebut perlu dibaca dalam konteks risiko kebencanaan, bukan sebagai penanda bahwa gempa akan segera terjadi.
Persoalannya, Surabaya merupakan kota dengan aktivitas masyarakat yang sangat tinggi.
Sekolah, pesantren, rumah sakit, gedung bertingkat, perkantoran, pusat perdagangan, hingga kawasan permukiman terus berkembang. Artinya, jika suatu saat terjadi gempa, dampaknya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan sumber gempa, tetapi juga oleh kualitas bangunan, kepadatan manusia, kesiapan fasilitas publik, serta kemampuan warga melakukan penyelamatan diri.
Di sinilah keberadaan dua sesar aktif tersebut menjadi persoalan tata kelola kota.
Sesar Tidak Bisa Diprediksi Seperti Jadwal Kereta
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto menegaskan masyarakat tidak perlu panik dengan informasi mengenai dua sesar tersebut.
Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah memastikan warga memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
“Upaya mitigasi ini kita lakukan mulai dari usia dini, dari tingkat PAUD hampir setiap hari kita latih, lalu ke sekolah-sekolah dari SD, SMP, hingga SMA,” ujar Irvan, Rabu (16/9/2026).
Edukasi tersebut dilakukan karena keberadaan sesar tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan waktu gempa.
Masyarakat justru perlu membangun kebiasaan menghadapi guncangan. Mulai dari mengetahui tempat berlindung, mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, hingga memahami apa yang harus dilakukan ketika guncangan berlangsung.
Irvan menekankan warga tidak perlu langsung berlari secara panik ketika gempa terjadi.
Prinsip perlindungan diri harus dilakukan terlebih dahulu dengan melindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh.
“Yang utama adalah hold and cover, mencari benda untuk menutupi kepala dan leher, berlindung di bawah meja, atau di area triangle of life (segitiga kehidupan),” katanya.
Edukasi tersebut kemudian diperluas ke berbagai kelompok masyarakat.
BPBD Surabaya tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga pesantren, rumah sakit, gedung bertingkat, serta lingkungan permukiman melalui Kampung Pancasila.
Langkah itu menunjukkan bahwa mitigasi dua sesar aktif tidak bisa hanya dilakukan oleh kelompok yang dianggap berada di kawasan rawan. Sebab, gempa dapat berdampak terhadap berbagai aktivitas perkotaan.
Dari Peta Sesar ke Sensor
Selain membangun kesiapan manusia, Pemkot Surabaya juga mulai memperkuat sisi pemantauan.
Pemerintah kota telah berkoordinasi dengan ITS terkait rencana pemasangan sensor untuk memonitor aktivitas sesar.
“Kita sudah koordinasikan dengan teman-teman ITS terkait alat sensor ini,” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Sensor tersebut diharapkan memberikan data yang lebih terukur mengenai aktivitas geologi di wilayah Surabaya.
Dengan demikian, keberadaan Sesar Surabaya dan Sesar Waru tidak hanya diketahui melalui peta, tetapi juga terus dipantau melalui instrumen yang dapat mendukung pengembangan kajian risiko.
Langkah ini menjadi penting karena data mengenai sesar tidak seharusnya berhenti sebagai informasi akademik. Data tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, mulai dari perencanaan tata ruang, standar bangunan, kesiapan fasilitas publik, hingga skenario evakuasi.
Ancaman Terbesar Bukan Garis Sesar, tetapi Ketidaksiapan
Keberadaan dua sesar aktif sering kali memunculkan kekhawatiran ketika informasi mengenai potensi gempa menyebar di masyarakat.
Namun, ancaman sesungguhnya bukanlah keberadaan sesar itu sendiri.
Sesar merupakan bagian dari proses geologi yang telah berlangsung dalam waktu sangat panjang. Yang dapat dikendalikan manusia adalah tingkat kerentanan ketika energi tektonik tersebut dilepaskan.
Bangunan yang tidak dirancang menghadapi guncangan, sekolah yang tidak memiliki prosedur evakuasi, rumah sakit yang tidak memiliki skenario kedaruratan, atau masyarakat yang tidak pernah melakukan simulasi akan membuat sebuah gempa berpotensi berubah menjadi bencana yang lebih besar.
Karena itu, keberadaan Sesar Surabaya dan Sesar Waru seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan kota harus berjalan beriringan dengan pengurangan risiko bencana.
Pemkot Surabaya telah memilih memperluas edukasi sekaligus menyiapkan sistem pemantauan. Namun, kesiapsiagaan tidak dapat dibangun hanya melalui satu program.
Diperlukan konsistensi untuk memastikan bangunan publik aman, jalur evakuasi jelas, titik kumpul tersedia, informasi kebencanaan mudah diakses, dan masyarakat secara rutin berlatih.
Jangan Menunggu Tanah Berguncang
Dua sesar aktif di bawah dan sekitar Surabaya tidak memberikan kalender kapan gempa akan datang.
Justru ketidakpastian itulah yang membuat mitigasi menjadi penting.
Sesar Surabaya dengan potensi maksimum sekitar M6,7 dan Sesar Waru sekitar M6,8 berdasarkan rujukan PuSGen 2024 merupakan bagian dari sistem geologi yang harus diperhitungkan dalam pembangunan kota.
Namun, angka magnitudo tersebut juga tidak boleh diterjemahkan sebagai prediksi bahwa gempa dengan kekuatan tersebut akan segera terjadi.
Yang tersedia adalah peta potensi dan kajian risiko. Selebihnya, kesiapan menjadi pekerjaan manusia.
Mulai dari sensor yang memantau aktivitas geologi, bangunan yang lebih aman, sekolah yang rutin melakukan simulasi, rumah sakit yang memiliki rencana kedaruratan, hingga warga yang tahu harus berlindung ke mana ketika guncangan datang.
Surabaya tidak dapat menghilangkan Sesar Surabaya dan Sesar Waru.
Tetapi kota ini dapat mengurangi risiko yang muncul karena keberadaan keduanya.
Pada akhirnya, dua sesar aktif tersebut bukan sekadar garis di peta. Ia adalah bagian dari kondisi geologis yang harus diterima, dipahami, dan diantisipasi.
Sebab ketika gempa benar-benar terjadi, waktu untuk belajar menghadapi bencana sudah habis. Yang tersisa hanyalah seberapa siap kota dan warganya merespons.
![Infografis dua sesar di Surabaya. [Dok Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/18/86121-sesar-di-surabaya.jpg)
Kontributor : Dimas Angga Perkasa