SuaraJatim.id - Ndalem Pojok, rumah tua berbentuk limasan di kawasan pedesaan di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, tidak hanya menyimpan dua pusaka milik Presiden Pertama RI Soekarno. Namun juga, sejumlah kisah penting hidup Sang Proklamator yang dramatis itu.
Di rumah itu, upacara selamatan penggantian nama Bung Karno dari Kusno menjadi Soekarno dilangsungkan. Penggantian nama itu merupakan salah satu syarat bagi kesembuhan Soekarno kecil yang sakit-sakitan, syarat yang diajukan oleh "orang pintar" yang ditemui ibunda Bung Karno di sebuah tempat di Jombang.
Seperti ditulis oleh Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1984), Kusno kecil sakit-sakitan hingga namanya harus diganti menjadi Karno, mengambil nama tokoh dalam epik Bharata Yudha, Karna, dan kemudian ditambahkan awalan "Su" atau "Soe" dalam ejaan lama yang berarti "baik".
Kisah yang lebih detail tentang episode itu disampaikan dengan lebih detail oleh Kushartono, cucu tidak langsung dari RM Panji Soemosewojo, pemilik Ndalem Pojok.
Sewaktu ayah Bung Karno pindah tugas sebagai guru di Jombang, tutur Kushartono, Kusno kecil yang berusia sekitar satu tahun dibawa ke "orang pintar" bernama Raden Mas Mendung di Kecamatan Kabuh, Jombang oleh ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Setiba di tempat penyembuh itu, Bung Karno diantar menemui Mas Mendung oleh kusir delman yang mengantarkan mereka karena Mas Mendung tidak mau menemui perempuan.
Kusno kecil yang sedang sakit parah pun diobati oleh Mas Mendung, dengan pesan untuk orang tuanya bahwa nama Kusno harus diganti nama jika ingin sembuh total. Kondisi Kusno kecil pun membaik, dan Ida Ayu menceritakan pesan "orang pintar" itu kepada suaminya, RM Soekemi Sosrodiharjo.
Mengajak Kusno kecil, Ida Ayu dan Soekemi pergi ke Desa Pojok guna menemui Mas Mendung, orang pintar tersebut. Ketika akhirnya Soekemi dan Mas Mendung bertatap muka, keduanya berpelukan karena ternyata mereka masih memiliki hubungan kekerabatan. Mas Mendung ternyata adalah nama samaran dari RM Panji Soemosewojo yang ibunya masih merupakan kerabat dari ayah Soekemi, kakek Bung Karno.
"Suasana menjadi cair dan Eyang Soemosewojo lantas mengajukan syarat lain yaitu mengambil Bung Karno sebagai anak angkatnya," ujar Kushartono.
Baca Juga: Pusaka Tombak dan Keris Peninggalan Bung Karno Dijamas di Pojok Ndalem
Bung Karno dan kedua orang tuanya tinggal di rumah Soemosewojo, selama waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan untuk Bung Karno.
Dan sejak itu, Ndalem Pojok menjadi rumah kedua bagi Bung Karno. Pun ketika Bung Karno pindah sekolah ke HBS di Surabaya tahun 1915, kerap meluangkan waktu mampir ke Ndalem Pojok dalam perjalanan pulang ke Blitar.
"Di rumah ini, Bung Karno remaja bahkan sering ngobrol dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh Syarikat Islam (SI) seperti Alimin dan Musso," tutur Kushartono.
Menurut Kus, di rumah itu, di bawah bimbingan Soemosewojo, Bung Karno memperdalam kemampuan berpidato yang banyak dia dapatkan dari HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Soemosewojo sendiri adalah ketua SI Kediri.
Ndalem Pojok juga menjadi saksi ketika Bung Karno jatuh cinta kepada perempuan bersuami yang kelak menjadi istrinya yang kedua, Inggit Garnasih, yang tidak lain adalah ibu kos tempat Bung Karno tinggal selama kuliah di ITB.
Kedua orang tua Bung Karno berang dan tidak setuju jika dia berniat menikahi Inggit dan menceraikan Oetari. Apalagi Oetari adalah anak Tjokroaminoto yang juga sahabat Soekemi. Tapi Bung Karno tidak bisa ditahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
Pilihan
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta
Terkini
-
Bayar TransJakarta Kini lebih Mudah Berkat Fitur QRIS Tap dari BRImo
-
Respon Bupati Lumajang Soal Anak Buah Terseret Kasus OTT BBM Subsidi, Kadis Dipanggil Polda Jatim!
-
3 Fakta Pencurian di Sekolah Ponorogo, Samurai Pelaku Tertinggal dan Kantor Berantakan!
-
Ratusan Guru PPPK Paruh Waktu Sambangi DPRD Tulungagung, Tuntut Kesejahteraan Layak
-
OTT Polda Jatim di Lumajang Bongkar Penyelewengan BBM, Oknum DLH Terlibat