SuaraJatim.id - Genap enam tahun berada di pengungsian sejak terusir dari kampung halamannya di Sampang, Jawa Timur, ratusan Muslim Syiah hidup dalam kesusahan. Dalam hati, mereka tetap memendam keinginan untuk pulang.
HAMDI (12) selalu bersemangat menjawab pertanyaan Bayu Pratama, jurnalis Jatimnet.com—jaringan Suara.com, siang itu, beberapa waktu lalu.
Tahun ini, sudah enam tahun Hamdi dan pengungsi Syiah Sampang menempati Rumah Susun Puspa Agro, Jemundo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
“30 Kak, teman-teman belajar bahasa Indonesia,” jawab bocah berkaos kostum sepak bola Barcelona itu.
Siang itu, Hamdi dan puluhan temannya sedang mengikuti kelas belajar Tunas, kelas akhir pekan gagasan komunitas Nera Academia.
Para pelajar itu keluar dari kampung halaman mereka, Nangkernang dan Kedinglaok, Sampang, Madura, pada 2012 silam. Saat itu Hamdi yang masih berusia enam tahun keluar bersama 348 jiwa lainnya.
Anak-anak dalam kelas siang itu tak memiliki usia yang sama, ada yang duduk di bangku SD, hingga SMP. Namun, anak-anak Sampang itu punya keinginan serupa, kembali pulang ke kampung halaman.
Joanna Liani (26), pegiat kelas Tunas menyaksikan besarnya keinginan anak-anak di kelasnya untuk kembali pulang.
Bahkan, ketika mereka diajak berwisata ke Taman Safari tahun lalu, kegembiraan bertemu dengan beragam satwa tak bisa menghapus ingatan akan kampung halaman.
Baca Juga: Ahlulbait Indonesia Tegaskan Muslim Syiah di Indonesia Bukan Kaum Minoritas
“Ketika di perjalanan, mereka lihat sawah, saya terharu. Mereka berseru, ‘sawah sawah, kayak di kampung’,” kenangnya.
Sejak 2014, kelas Tunas dipercaya warga setempat untuk memberikan pelajaran tambahan setiap Sabtu dan Minggu.
Menempati sebuah ruangan di lantai dua, pengajar kelas Tunas memberikan beragam materi, mulai dari membantu mengerjakan PR sekolah, bercerita, hingga ketrampilan lain untuk mendorong anak-anak memiliki rasa percaya diri kembali.
Pada jam sekolah, murid kelas Tunas belajar di sekolah formal masing-masing. Ada yang di SD negeri, Madrasah Tsanawiyah, atau yang belajar di pesantren. Bertemu dan membaur dengan pelajar lain di Sidoarjo.
Namun, ketika bertemu di kelas Tunas, cita-cita mereka tak banyak berubah. Cita-cita yang tak terkikis waktu, sejak mereka terusir dari rumah pada 28 Agustus 2012, menghuni GOR Sampang selama delapan bulan, dan berakhir di Sidoarjo hingga kini.
“Saat kami tanya cita-cita, mereka menjawab, ingin pulang,” ujar Liani.
Berita Terkait
-
Ahlulbait Indonesia Tegaskan Muslim Syiah di Indonesia Bukan Kaum Minoritas
-
Mahasiswa Unsyiah Raih Juara di Forum Pemuda ASEAN
-
Bentrok Demonstran Syiah dengan Polisi Nigeria, 8 Orang Tewas
-
Protes di Gedung Parlemen Nigeria, Puluhan Umat Syiah Ditangkap Polisi
-
Potret Langka, Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah Indonesia Buka Puasa Bersama
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Menyibak Jejak Pemukiman Elit Era Majapahit di Balik Lantai Segi Enam Sentonorejo
-
Aroma Busuk di Balik Dapur MBG Pamekasan: Tercium Dugaan Skandal Suap
-
BRI di Bawah Danantara Tebar Dividen Rp52,1 Triliun, Transformasi Makin Kuat
-
Gubernur Khofifah Lepas Ekspor 405 Ton Ikan Kaleng PT Pacific Harvest Indonesia: Pasar Global Bagus
-
Gunung Semeru Erupsi 1 Kilometer, Pemkab Lumajang Ingatkan Bahaya Material Vulkanik yang Masih Panas