SuaraJatim.id - Keberadaan bantuan sosial (bansos) Covid-19 atau bantuan langsung tunai (BLT) yang disalurkan pada masa pandemi, kerap memancing keributan warga lantaran proses distribusinya yang dinilai tak adil. Proses penyaluran yang ditujukan kepada pihak yang membutuhkan atau keluarga penerima manfaat (KPM) kerap tidak diterima merata.
Namun di balik persoalan tersebut, masih ada warga yang tercatat dalam KPM justru mengembalikan secara sukarela ke pemerintah desa (pemdes) karena mengaku sudah mampu. Langkah itu pula yang dilakukan Warga Dusun Gelatik, Desa Watesnegoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, Piyati.
Nenek berusia 80 tahun ini merupakan satu dari 141 penerima BLT dari dana desa. Meski namanya terdaftar dalam penerima BLT, namun ia memutuskan bantuan Rp 600 ribu ke pemdes. Bukan tanpa sebab Piyati memilih mengembalikan BLT tersebut. Sebelum memutuskan hal tersebut, ia telah bersepakat dengan dengan pihak keluarga yang mengaku masih merasa mampu pada masa seperti saat ini.
Selain itu, pengembalian BLT juga didasari belum tepatnya sasaran penerima. Karena masih banyaknya warga setempat yang ekonominya terdampak secara langsung selama masa pandemi Covid-19, tapi tidak menerima.
“Saya bersama kakak masih mampu merawat ibu. Harapannya dengan pengembalian itu, bisa disalurkan ke warga yang berhak. Khususnya janda dan yang di-PHK. Ibu juga berharap pengembalian ini bisa menyembuhkan sakitnya,” kata anak kedua nenek Piyati, Suliyono seperti dilansir beritajatim.com-jaringan Suara.com pada Kamis (21/5/2020).
Sebenarnya, Piyati tergolong dalam kategori orang yang berhak menerima BLT karena tergolong lanjut usia (lansia) yang sudah tidak ada pekerjaan. Hanya saja, kehidupan Piyati selama ini masih ditopang putranya, sehingga ia menolak menerima BLT DD dan mengembalikan bantuan tersebut ke pemdes.
Koordinator Pendamping Ahli Desa Kabupaten Mojokerto Mujib Bustomi mengatakan, BLT yang dikembalikan tersebut tidak bisa masuk kas desa. Lantaran, pemdes tetap berkewajiban menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.
“Yakni warga setempat yang sempat diusulkan dalam daftar penerima namun akhirnya terdegradasi akibat pembatasan kuota,” jelasnya.
Baca Juga: JK Sebut Warga Terdampak Corona Lebih Baik Diberi BLT, Begini Kata Ekonom
Berita Terkait
-
Duh Kumaha Kang Emil, Warga Garut Berdesakan Rebutan Bantuan dari Anda Nih!
-
Warga Pakai Dana Bansos untuk Beli Baju, Ridwan Kamil: Padahal untuk Makan
-
Kiai Borong 300 Ton Beras untuk Orang Miskin Tak Dapat Bansos Corona
-
Awasi Bansos Corona, Jokowi Minta KPK, BPK dan Kejaksaan Turun Tangan
-
Perum Bulog Telah Salurkan Bansos Beras ke 933 Ribu kepada KPM
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Overstay Setahun, Dua WNA Thailand Dideportasi dari Indonesia
-
Siasat Licik Istri Napi di Tulungagung: Selundupkan 54 Pil Penenang di Balik Botol Kopi
-
Topeng Alim Pembunuh Ibu-Anak Asal Madiun: Ikut Yasinan Warga Sebelum Diciduk di Jombang
-
Mitsubishi Destinator Ultimate: 7-Seater Family Car yang Bikin Perjalanan Keluarga Lebih Mewah
-
Tak Perlu Ribet, Qlola Mobile BRI Permudah Akses Finansial Perusahaan