Saat tengah malam tiba, iringan mantra dan puja-puji prosesi pengusiran pagebluk mulai diberangkatkan dari pendopo. Palang menyusuri seluruh wilayah pelosok Mejayan sampai menjelang pagi. Dalam ritual ini, parogo buto tidak diperbolehkan mengenakan busana.
Ritual ini memiliki beberapa aturan, di antaranya, obor harus terbuat dari bambu, dupa harus terus mengepulkan asap kemenyan dan dibawa oleh pembaca puja-puji, pusaka palangan dibawa oleh waris terpilih di bawah payung agung.
Kemudian uborampe atau berapa macam syarat tolak bala seperti tumbal, takhir, plontang berisi bubur beras dan ditanam di tempat yang telah ditentukan. Biasanya, di tempat yang dianggap punjer atau sentral, seperti perempatan, pertigaan, jembatan, sudut-sudut desa, halaman rumah parogo dan juga para gamben atau sesepuh yang berilmu spiritual tinggi.
Nilai kebudayaan Dongkrek merupakan kesenian rakyat Kabupaten Madiun, khususnya di Desa Mejayan sebagai warisan budaya masyarakat yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini biasa dilakukan di bulan Suro berupa tradisi arak-arakan keliling desa dan ritual penolak bala (pagebluk).
Kesenian Dongkrek merupakan kesenian yang sakral dengan pakem-pakem yang masih dijaga keasliannya. Kesenian ini adalah ritual yang diwariskan oleh leluhur Desa Mejayan dan melibatkan seluruh penduduk setiap satu tahun sekali.
Beberapa sanggar kesenian dan sekolah-sekolah di Kabupaten Madiun menduplikasi dan mengembangkan kesenian Dongkrek dengan inovasi tambahan berupa jumlah penari dan musik pengiring sebagai wujud pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah tersebut.
Kesenian Dongkrek di sanggar dan sekolah-sekolah, hanya dipandang sebagai hiburan rakyat dalam pentas-pentas kesenian dan budaya, bukan sebuah ritual yang sakral atau arak-arakan keliling desa seperti yang dilakukan di desa asal kesenian Dongkrek.
Meski kesenian Dongkrek begitu sakral bagi masyarakat Mejayan, namun ritual ini sempat mengalami pasang surut. Pada masa penjajahan, kesenian ini pernah dilarang oleh pemerintah kolonial untuk dijadikan ritual maupun hiburan rakyat.
Begitu pun saat pasukan Jepang berkuasa hingga di masa pemberontakan PKI di Madiun, kesenian ini sempat tergeser oleh kesenian genjer-genjer yang di kembangkan oleh PKI. Kemudian pada tahun 1973, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggali dan mengembangkan kembali kesenian Dongkrek sebagai warisan kebudayaan yang dimiliki oleh Kabupaten Madiun.
Baca Juga: Tulis 'Wara-wara' di Instagram, Wali Kota Madiun dan Istrinya Positif Covid-19
Kini, kesenian Dongkrek berkembang menjadi tiga kesenian. Pertama, kesenian yang masih menjadi pakem ritual tolak bala di Desa Mejayan.
Kedua, kesenian Dongkrek yang dikembangkan di sanggar-sanggar kesenian sebagai hiburan rakyat yang dipentaskan di pagelaran budaya sebagai kekayaan warisan leluhur yang dimiliki Kabupaten Madiun, dengan penambahan alat musik dan penari latar, serta puja-puji yang digantikan gending Jawa, guna mengikuti selera masyarakat yang semakin modern.
Meskipun demikian, beberapa sanggar masih menggunakan iringan selawat. Ketiga, kesenian Dongkrek sebagai kesenian yang dipelajari di sekolah-sekolah sebagai pengenalan budaya lokal yang harus dilestarikan.
Terlepas dari efektif atau tidaknya kesenian tersebut untuk mengusir wabah pandemi, masyarakat Mejayan telah melakukan ritual ini sejak ratusan tahun lalu sebagai sebuah kepercayaan yang lahir lantaran adanya wabah penyakit.
Kontributor: Fisca Tanjung
Berita Terkait
-
Tulis 'Wara-wara' di Instagram, Wali Kota Madiun dan Istrinya Positif Covid-19
-
Wali Kota Madiun Positif Terpapar Covid-19: Doakan Agar Virus Segera Diangkat
-
Arda Naff dan Tantri Kotak Pulang Kampung ke Madiun Cicipi Jamu: Semua Enak!
-
Wali Kota Madiun Berlakukan Jam Malam, Seluruh Aktivitas Setop Pukul 20.00
-
Ada Bapak, Anak dan Cucu Positif Covid Semua, Sekampung di Madiun Dilockdown
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Skandal Tagihan Hantu di RS Jember: Saat Dana BPJS Rakyat Digerogoti Diagnosa Palsu
-
Mafia Masuk PTN Terbongkar: 3 Dokter Aktif di Jatim Jadi Otak Sindikat Joki UTBK Beromzet Miliaran
-
Duka di Balik Topeng Tawa: Kisah Tragis Badut Keliling Mojokerto yang Habisi Nyawa Mertua
-
Holding UMi Jadi Jawaban Atas Akses Pembiayaan Terintegrasi bagi Para Pelaku Usaha Mikro
-
BRILink Agen Jangkau Lebih dari 80% Desa di Indonesia, Transaksi Capai Rp420 Triliun