- BNPT peringatkan sel teroris manfaatkan game online untuk merekrut dan mencuci otak anak muda.
- Densus 88 menangkap 4 terduga teroris pendukung ISIS yang aktif menyebar propaganda di medsos.
- Orang tua diimbau membangun komunikasi & mengawasi aktivitas anak di game online secara bijak.
SuaraJatim.id - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengirimkan sinyal bahaya bagi para orang tua di seluruh Indonesia.
Kelompok teroris kini terdeteksi menggunakan modus baru untuk merekrut anggota, yakni dengan menyusup ke dalam dunia game online yang digandrungi anak muda.
Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Meskipun aksi terorisme berskala besar mereda dalam beberapa tahun terakhir, gerakan sel-sel radikal ternyata tidak pernah benar-benar padam.
Mereka hanya mengubah strategi, beralih dari ruang fisik ke ruang digital yang dianggap lebih aman untuk menyebarkan propaganda kekerasan.
Fakumnya aksi teror bisa jadi merupakan strategi untuk membuat aparat dan masyarakat lengah.
Game online menjadi medan pertempuran ideologi baru bagi mereka, sebuah arena yang dipenuhi oleh generasi muda yang potensial untuk dicuci otak.
Bukti nyata bahwa ancaman ini masih ada adalah penangkapan empat orang terduga teroris jaringan pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
Keempatnya, yang tergabung dalam kelompok "Ansharut Daulah", ditangkap di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut) pada 3 dan 6 Oktober 2025 lalu.
Menurut pihak berwenang, kelompok ini sangat aktif menyebarkan provokasi dan materi teror melalui media sosial, yang kini merambah hingga ke platform game.
Baca Juga: Raih RAN PE 2023 BNPT, Gubernur Khofifah Ingatkan Toleransi Antar Umat Beragama Harus Dijaga
Penangkapan ini menjadi pengingat keras bahwa ideologi khilafah yang menentang Pancasila masih terus mencari celah untuk berkembang.
Modus Operandi di Dunia Maya
Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, secara gamblang membeberkan taktik baru ini. Para teroris menyadari pertemuan tatap muka kini mudah terdeteksi, sehingga mereka beralih ke dunia maya.
"Dengan menyasar untuk memengaruhi anak-anak muda, mereka menyusupkan paham kekerasan itu lewat permainan atau game online," ujar Sudaryanto dikutip dari ANTARA, Rabu (8/10/2025).
Proses rekrutmen ini berjalan halus dan perlahan. Pelaku biasanya memanfaatkan fitur obrolan (chat) di dalam game untuk membangun komunikasi dengan target.
Setelah terjalin kedekatan, mereka mulai menyisipkan paham radikal secara bertahap. Jika target menunjukkan ketertarikan, ia akan ditarik ke dalam grup percakapan yang lebih privat dan eksklusif untuk proses indoktrinasi lebih lanjut.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Groundbreaking JLKT dan Peresmian Air Bersih, Khofifah Wujudkan Bromo Aman dan Berkelanjutan
-
BRI Group Perkuat Ekosistem Ultra Mikro, Simpanan Emas Tembus 17,1 Ton
-
BRI Perkuat Fondasi Teknologi, Kantongi Sertifikasi Kualitas Software Internasional
-
Di Balik Dapur MBG, Perjuangan Agus Menghidupi Keluarga dan Melunasi Utang
-
Di HUT ke-80 Muslimat NU, Khofifah Perkuat Barisan 400 Paralegal Demi Keadilan Perempuan & Anak