- Jalan jongkok santri adalah wujud adab dan penghormatan, bukan simbol ketundukan atau merendahkan diri.
- Tradisi ini berakar pada nilai budaya Jawa 'jatmika', yaitu sikap santun dan tahu menempatkan diri.
- Meski terlihat kuno, nilai di balik jalan jongkok seperti hormat dan rendah hati tetap relevan.
SuaraJatim.id - Di tengah hiruk pikuk modernitas, sebuah tradisi unik dari lingkungan pesantren masih memancarkan pesona kearifan lokal yang mendalam: jalan jongkok.
Gestur yang sering dilakukan para santri saat melintas di hadapan kiai atau orang yang lebih tua ini kerap disalahpahami sebagai bentuk ketundukan buta.
Padahal, di baliknya tersimpan filosofi luhur tentang adab, kehormatan, dan cara menempatkan diri dalam tatanan sosial.
Jalan jongkok bukanlah sekadar kebiasaan fisik, melainkan manifestasi dari sebuah sikap batin yang telah terinternalisasi. Ini adalah cara para santri menunjukkan penghormatan tertinggi kepada guru dan sesepuh, sebuah praktik yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.
Menurut M. Ishom el Saha, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, tradisi ini sarat akan makna.
"Dalam kehidupan pesantren maupun masyarakat tradisional Jawa, jalan jongkok merupakan gestur yang sarat makna. Biasanya dilakukan santri ketika melewati kiai atau orang yang lebih tua, sikap ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan wujud konkret dari penghormatan dan tata krama yang telah mengakar dalam budaya," jelasnya dikutip dari situs resmi kemenag pada Rabu (15/10/2025).
Lebih jauh, filosofi ini berakar pada konsep jatmika dalam budaya Jawa. M. Ishom el Saha menambahkan, "Sikap jalan jongkok tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesadaran untuk menempatkan diri secara tepat dalam ruang sosial. Dalam tradisi Jawa, ada nilai yang disebut jatmika, yakni bersikap santun, tahu tata, dan mampu menjaga diri agar tidak melampaui batas sopan santun. Jalan jongkok adalah bagian dari ekspresi nilai tersebut—rendah hati tanpa merasa direndahkan."
Dalam konteks pesantren, jalan jongkok menjadi bagian tak terpisahkan dari laku hidup seorang santri. Pendidikan di pesantren tidak hanya berkutat pada penguasaan kitab-kitab kuning, tetapi juga pembentukan karakter dan adab.
"Jalan jongkok saat melewati guru bukan berarti kehilangan harga diri, tetapi menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal hafalan, melainkan juga soal pembentukan sikap batin," ungkapnya.
Baca Juga: Menteri PU: Semua Bangunan Pondok Pesantren Akan Dievaluasi
Sikap ini mengajarkan bahwa kehormatan tidak bisa dituntut, melainkan harus ditunjukkan terlebih dahulu melalui perbuatan.
Gestur menunduk atau berjalan jongkok adalah cara sederhana untuk mengatakan, "Aku menghormatimu, bukan karena aku lebih rendah, tetapi karena aku memahami tempatku."
Di era yang mengagungkan kesetaraan formal, tradisi seperti jalan jongkok mungkin terlihat usang atau bahkan dianggap tidak relevan.
Namun, nilai esensial di baliknya justru semakin dibutuhkan. Di saat etika sosial terasa semakin longgar, kesantunan dan kemampuan menempatkan diri yang diajarkan melalui tradisi ini bisa menjadi fondasi kuat untuk membangun karakter generasi muda yang beradab dan peka sosial.
Jalan jongkok adalah pengingat bahwa dalam budaya kita, ketinggian seseorang tidak diukur dari posisi tubuh, melainkan dari luhurnya budi pekerti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
Terkini
-
6 Fakta Tragis Ledakan Petasan Balon Udara di Ponorogo, Pelajar SMP Tewas dan 2 Luka Parah
-
Ngeri! Petugas Pembersih Kaca Terombang-ambing di Ketinggian Apartemen Surabaya
-
Viral! Jenazah di Madura Dituding Tak Boleh Dikubur Sebelum Utang Rp215 Juta Lunas
-
BRI Perkuat Pembiayaan KUR Perumahan demi Wujudkan Hunian Rakyat Lebih Sejuk dan Layak
-
22 Ribu Tiket Kereta Lebaran dari Malang Diskon 30% Masih Tersedia, Cek Daftarnya!