Riki Chandra
Jum'at, 09 Januari 2026 | 18:27 WIB
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  • Produksi jagung Jawa Timur diproyeksikan tembus 5,4 juta ton 2026.

  • Data BPS menunjukkan kontribusi signifikan Jawa Timur bagi swasembada pangan.

  • Surplus jagung besar menopang pakan ternak dan agribisnis nasional.

     

SuaraJatim.id - Produksi jagung Jawa Timur (Jatim) diproyeksikan terus menguat dan mencapai sekitar 5,4 juta ton pada tahun 2026 ini.

Proyeksi tersebut disampaikan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, seiring penguatan peran daerah sebagai lumbung pangan nasional dan penopang swasembada.

Menurut Khofifah, capaian dan target produksi jagung Jawa Timur sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan nasional.

“Alhamdulillah, Indonesia oleh Pak Presiden Prabowo telah dinyatakan swasembada pangan. Kita sudah swasembada beras, hari ini panen jagung, dan target swasembada jagung bisa dicapai tahun 2026,” kata Khofifah, Jumat (9/1/2026).

Penguatan produksi jagung Jawa Timur ditopang luas baku sawah yang mencapai 1.207.997 hektare.

Dari total tersebut, lahan irigasi tercatat 719.598 hektare atau sekitar 59,57 persen, sementara lahan nonirigasi atau tadah hujan seluas 488.379 hektare atau 40,43 persen.

Berdasarkan Angka Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang dipublikasikan pada 5 Januari 2026, luas panen jagung di Jawa Timur mencapai 755.417 hektare dengan produktivitas 6,07 ton per hektare.

Data ini memperkuat posisi produksi jagung di Jatim sebagai salah satu yang terbesar secara nasional.

Dari sisi hasil, produksi Jagung Pipilan Kering (JPK) dengan kadar air 28 persen tercatat sebesar 6.203.461 ton. Sementara JPK dengan kadar air 14 persen mencapai 4.585.921 ton. Adapun rata-rata harga jagung tingkat produsen berada di kisaran Rp5.985 per kilogram berdasarkan Laporan Pelayanan Informasi Pasar.

Sepanjang 2025, realisasi tanam jagung Jawa Timur mencapai 990.011 hektare. Dengan kontribusi tersebut, Khofifah menegaskan peran strategis daerahnya.

“Maka, Jawa Timur merupakan salah satu lumbung jagung terbesar di Indonesia karena kontribusi produksi kita sangat signifikan terhadap kebutuhan nasional. Insya Allah, ke depan, kita tetap jadi penguat bagi swasembada pangan,” katanya.

Selain fokus pada produksi, pemerintah daerah juga memberi perhatian pada kesejahteraan petani.

“Perhatian utama kita selalu petani. Apapun yang kita lakukan, itu pasti memikirkan petani. Maka dari itu, Alhamdulillah menurut BPS, Nilai Tukar Petani Jawa Timur pada bulan Desember 2025 lalu mencapai 118,96. NTP ini naik sebesar 3,95 persen, yang menjadikan kenaikan kita merupakan kenaikan tertinggi di Pulau Jawa,” ujarnya.

Khofifah menambahkan, kondisi tersebut mencerminkan kesejahteraan petani yang semakin kuat. Pada 2026, produksi jagung Jawa Timur dengan kadar air 14 persen diproyeksikan mencapai 5.445.158 ton, dengan kebutuhan konsumsi sekitar 89.820 ton.

Sementara itu, kebutuhan pakan ternak pada 2026 diperkirakan mencapai 4.152.060 ton. Dengan perhitungan tersebut, potensi surplus jagung Jawa Timur diprediksi mencapai sekitar 1.203.818 ton, mempertegas peran strategis produksi jagung Jawa Timur dalam rantai pangan dan agribisnis nasional.

Load More