Riki Chandra
Jum'at, 16 Januari 2026 | 19:44 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS [Yayasan AIDS Indonesia]
Baca 10 detik
  •  Kasus HIV/AIDS di Bondowoso tembus 1.483 orang dan status darurat.

  • DPRD dorong screening ASN dan pesantren untuk pencegahan.

  • Edukasi dan fasilitas kesehatan dinilai kunci tekan penularan.

SuaraJatim.id - Kasus HIV/AIDS di Bondowoso kian mengkhawatirkan dan dinilai telah masuk zona darurat. Hingga akhir 2025, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di daerah tersebut tercatat mencapai 1.483 orang.

Angka itu bertambah 155 kasus baru sepanjang tahun lalu, menandakan laju penularan HIV/AIDS di Bondowoso masih tinggi dan membutuhkan langkah penanganan yang lebih serius.

Data terbaru HIV/AIDS di Bondowoso itu dipaparkan oleh Pokja TB-HIV bersama Dinas Kesehatan Bondowoso dalam kunjungan kerja Komisi IV DPRD Bondowoso ke Dinas Kesehatan.

Dalam forum tersebut, DPRD menegaskan penanganan HIV/AIDS di Bondowoso tidak lagi cukup dibahas dari sisi anggaran, melainkan harus berfokus pada strategi konkret di tengah menurunnya dukungan pendanaan.

Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menekankan pentingnya penguatan langkah pencegahan.

“Bukan lagi bicara anggaran kecil, tapi bagaimana strategi menghadapi kondisi ini. Penguatan screening dan sosialisasi harus diperluas,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).

Salah satu usulan yang mengemuka adalah memperluas screening TB-HIV dengan menyasar aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Bondowoso sebagai bentuk tanggung jawab dan keteladanan pemerintah daerah.

Selain ASN, lingkungan pondok pesantren juga diusulkan menjadi sasaran prioritas pencegahan. Abdul Majid menilai pesantren perlu mendapatkan perhatian khusus agar santri terlindungi dari penyakit menular.

“Pesantren harus kita jaga dan kita amankan, agar para santri terbebas dari penyakit yang diindikasi berbahaya,” tegasnya.

Ketua Pokja TB-HIV Kabupaten Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, memaparkan rincian 155 kasus baru HIV/AIDS sepanjang 2025.

Dari jumlah tersebut, terdapat 4 anak usia di bawah 4 tahun, 5 remaja usia 15–19 tahun, 14 orang usia 20–24 tahun, 106 orang usia produktif 25–49 tahun, serta 26 orang berusia di atas 50 tahun. Menurutnya, kasus pada balita umumnya terjadi akibat penularan dari ibu.

Funky menjelaskan, anak yang lahir dari ibu dengan HIV tetap berpeluang lahir negatif jika sejak awal ibu menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

“Bisa karena baru mengetahui statusnya, tidak rutin minum obat, atau putus obat,” jelasnya.

Sementara pada kelompok remaja, penularan dipengaruhi perilaku berisiko, termasuk fenomena lelaki seks lelaki (LSL) yang disebut semakin meningkat.

Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Bondowoso, Goek Fitri Purwandari, menyampaikan pihaknya terus melakukan tracing, tracking, dan sosialisasi. Saat ini terdapat 12 fasilitas kesehatan di Bondowoso yang melayani ODHA untuk mendapatkan obat ARV secara gratis sesuai standar operasional.

Load More