- Kebijakan pemangkasan dana transfer pusat memicu risiko perlambatan ekonomi serta ancaman kebangkrutan bagi banyak pelaku usaha daerah.
- Ketua AKPI Jimi Simanjuntak menyatakan proses kepailitan dapat menjadi peluang reorganisasi bisnis bagi pelaku usaha di masa sulit.
- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjaga stabilitas ekonomi melalui optimalisasi PAD dan digitalisasi untuk mengurangi ketergantungan anggaran pusat.
SuaraJatim.id - Kabar kurang sedap datang dari ibu kota. Kebijakan pemangkasan dana transfer dari Pemerintah Pusat ke daerah kini menjadi hantu baru bagi stabilitas ekonomi lokal.
Di banyak daerah, kebijakan ini ibarat menarik rem tangan pada roda pembangunan yang tengah melaju. Risikonya nyata. Perputaran uang melambat, dan para pelaku usaha, khususnya kelas menengah serta UMKM, terancam gulung tikar.
Namun, di tengah awan mendung fiskal tersebut, sebuah narasi optimisme justru muncul dari Kota Pahlawan.
Kondisi ekonomi global dan nasional yang tak menentu memang meningkatkan tensi di sektor kepailitan. Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI), Jimi Simanjuntak, mengakui bahwa tantangan ke depan akan semakin berat.
Ketidakmampuan daerah dalam menyerap barang dan jasa akibat anggaran yang dipangkas bisa memicu gelombang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Meski begitu, Jimi memberikan sudut pandang berbeda yang menenangkan.
“Kepailitan itu bukan lonceng kematian. Justru, ini bisa menjadi jalan keluar bagi pelaku usaha untuk mereorganisasi bisnisnya agar tetap relevan di masa sulit,” tegas Jimi dalam agenda Pendidikan Kurator di Jawa Timur.
Dukungan serupa datang dari Kejaksaan Tinggi Jatim. Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun), Martha Parulina Berliana, menekankan pentingnya sinergi agar para kurator bisa bekerja profesional menyelamatkan aset negara dan dunia usaha tanpa bayang-bayang kriminalisasi.
Saat banyak daerah mulai mengeluh, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi justru menunjukkan kelasnya dalam menjaga resiliensi ekonomi.
Dalam sidak yang dilakukan di daerah Tanah Merah, Selasa (21/4/2026), Eri menegaskan bahwa Surabaya tidak akan goyah hanya karena anggaran pusat dipangkas.
Baca Juga: Akhir Pelarian Ratu Kredit Fiktif Rp9,6 Miliar Asal Surabaya: 6 Tahun Sembunyi Diciduk di Jaksel
"Surabaya hari ini masih bisa berjalan. Kenapa? Karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) kami sudah mencapai 75 persen dari total anggaran. Kami tidak tergantung pada anggaran pemerintah pusat," tegas Eri dengan nada mantap.
Eri menerapkan strategi 'skala prioritas' yang sangat ketat. Pemkot Surabaya memilih untuk "mengikat pinggang" pada proyek-proyek infrastruktur besar yang tidak mendesak, namun mengharamkan pemangkasan pada sektor pelayanan publik, kemiskinan, dan kesehatan.
Lalu, bagaimana Eri menutup celah dana yang hilang? Jawabannya adalah inovasi. Pemkot Surabaya kini tengah menggenjot digitalisasi di segala lini untuk menutup kebocoran anggaran dan mempermudah pendapatan.
Salah satu sektor yang dipacu adalah optimalisasi pajak reklame dan retribusi melalui sistem digital yang lebih transparan.
"Kami memutar otak agar PAD bertambah. Digitalisasi adalah kunci untuk menutupi pemangkasan dari pusat," jelas Eri.
Kontributor : Dimas Angga Perkasa
Berita Terkait
-
Akhir Pelarian Ratu Kredit Fiktif Rp9,6 Miliar Asal Surabaya: 6 Tahun Sembunyi Diciduk di Jaksel
-
Senyum Semringah Jemaah Calon Haji Embarkasi Surabaya: Dokumen Siap, Biaya Tak Naik
-
Siasat Pedagang Sari Kedelai Surabaya: Cara Bertahan di Tengah Badai Kenaikan Harga Plastik
-
Fokus Melayani, Bukan Cari Jodoh! Kemenhaj Surabaya Larang Petugas Haji Cinlok di Tanah Suci
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Kemenkum Tegaskan Penutupan Situs Tak Bisa Asal, Aduan Pelanggaran Hak Cipta Harus Lewati Verifikasi
-
Dwi Bagus Jagal Sadis Madiun: Si Pintar Lulusan ITB Diburu Korporasi Asing dengan Gaji 9 Juta/Hari
-
Detik-detik Honda CR-V Membara di Tol Jomo: Pengemudi 61 Tahun Lolos dari Kepungan Api
-
PG Jatiroto Buka Suara soal Dugaan Penggelapan 75 Ton Gula, Kerugian Pembeli Capai Rp1,2 Miliar
-
Ada 102 Perusahaan: Simak Jadwal, Syarat, dan Link Daftar Job Fair Jatim 2026