- Pelaku usaha di Surabaya menyiasati kenaikan harga plastik dengan mengatur porsi es batu atau mengedukasi pelanggan membawa tas sendiri.
- Lonjakan harga plastik menyebabkan volume sampah plastik di Surabaya tetap tinggi, sehingga menimbulkan anomali di Tempat Pembuangan Sampah.
- Pemerintah Kota Surabaya menertibkan TPS karena aktivitas pemulung yang mencari sampah plastik mengakibatkan penumpukan limbah meluber hingga ke jalan.
SuaraJatim.id - Di bawah terik matahari Surabaya, segelas es sari kedelai adalah penyelamat bagi dahaga. Namun, bagi Nur Afiah, penjual minuman di kawasan Dukuh Kupang, segelas sari kedelai kini bukan sekadar soal rasa, melainkan soal kalkulasi rumit agar dapur rumahnya tetap mengepul.
Harga plastik, komponen kecil namun vital bagi usahanya, tengah "terbang" tak terkendali. Mulai dari kantong kresek berbagai ukuran hingga sedotan plastik, semuanya naik signifikan. Namun, menaikkan harga jual es atau gorengannya adalah opsi terakhir yang sebisa mungkin ia hindari.
Siasat 'Gunung Es' di Tengah Kenaikan Harga
Untuk menyiasati lonjakan modal plastik yang mencekik, Nur Afiah harus memutar otak. Strateginya unik. Dia memainkan porsi es batu.
Dengan menambah jumlah es batu dalam setiap bungkus sari kedelai, ia bisa menekan penggunaan bahan baku sekaligus menjaga margin keuntungan tanpa harus membebani pembeli dengan kenaikan harga.
"Semuanya naik. Tapi ya tetap saya tidak menaikkan harga es maupun jajanan. Caranya, ya saya mainkan jumlah es batu dalam penjualan," ungkap Nur Afiah saat berbincang, Kamis (9/4/2026).
Lain halnya jika pembeli meminta sari kedelai murni tanpa es. "Ya kalau itu terpaksa harganya saya naikkan sedikit," tambahnya.
Keresahan serupa dirasakan Tri Desi Kurniawati, pemilik Toko Kelontong A3 di Simo Jawar. Kenaikan harga plastik yang mencapai 50 persen memaksanya melakukan "edukasi paksa" kepada pelanggan.
Ia kini gencar menyarankan pembeli membawa kantong belanja sendiri dari rumah. "Naiknya cukup tinggi, jadi mau tidak mau pemakaian plastik harus dikurangi," tuturnya.
Baca Juga: Dilema UMKM: Naikkan Harga atau Bangkrut Gara-Gara Plastik Mahal
Anomali Sampah Plastik: Harga Naik, Volume Tak Turun
Logikanya, saat harga barang naik, penggunaan akan berkurang. Namun, hukum ekonomi ini nampaknya tidak berlaku bagi sampah plastik di Kota Pahlawan. Meski harganya mahal, volume sampah plastik di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) masih tetap mendominasi.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menyebut fenomena ini sebagai anomali. Masyarakat Surabaya rupanya masih sangat bergantung pada plastik dalam aktivitas belanja sehari-hari, termasuk di toko-toko modern yang masih menyediakan kantong plastik.
“Belum terdampak (pengurangan). Semua orang belanja masih menggunakan plastik. Dampaknya, sampah plastik masih tetap banyak di Surabaya,” kata Fikser.
Lonjakan harga plastik ini ternyata menciptakan fenomena baru di lapangan. Plastik kini dipandang sebagai "emas putih" bagi para pemulung. TPS kini diserbu pengepul dan pemulung yang sibuk memilah plastik bernilai tinggi.
Namun, aktivitas berburu harta karun ini justru membawa masalah baru. Kehadiran para pemilah sampah yang membeludak membuat ruang di dalam TPS menyempit. Akibatnya, sampah-sampah lain meluber hingga ke jalan raya dan mengganggu kinerja petugas kebersihan.
Berita Terkait
-
Dilema UMKM: Naikkan Harga atau Bangkrut Gara-Gara Plastik Mahal
-
Fokus Melayani, Bukan Cari Jodoh! Kemenhaj Surabaya Larang Petugas Haji Cinlok di Tanah Suci
-
Sosialisasi Parkir Digital Surabaya Berujung Chaos: Lemparan Batu Hingga Sweeping Tengah Malam
-
Bukan Sekadar Tap-In, Parkir Digital Surabaya Picu Ketegangan Jukir vs Pemkot
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP
-
Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga
-
Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun
-
Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum
-
Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT