Wakos Reza Gautama
Selasa, 05 Mei 2026 | 10:41 WIB
Kondisi jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Wonoanti dengan Desa Nglaran dan Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Pacitan mengalami kerusakan parah. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Jalan kabupaten penghubung Desa Wonoanti, Nglaran, dan Jetak di Pacitan mengalami kerusakan berat sepanjang satu kilometer.
  • Upaya perbaikan swadaya oleh warga setempat kini tidak lagi memadai karena tingkat kerusakan jalan semakin parah.
  • Kondisi jalan yang berlubang menghambat mobilitas ekonomi serta membahayakan keselamatan warga yang melintas setiap harinya.

SuaraJatim.id - Bagi warga Desa Wonoanti, Nglaran, dan Jetak di Kecamatan Tulakan, Pacitan, perjalanan harian kini bukan lagi soal menempuh jarak, melainkan soal adu ketangkasan menghindari bahaya.

Jalan kabupaten yang menjadi urat nadi penghubung ketiga desa tersebut kini dalam kondisi "sekarat", menyisakan trauma bagi setiap pengendara yang melintas.

Pemandangan aspal yang mulus kini tinggal kenangan. Sepanjang kurang lebih satu kilometer, jalur ini berubah menjadi hamparan batu kerikil yang berserakan, seolah aspalnya telah terkelupas dipaksa cuaca dan beban zaman.

Tak hanya itu, lubang-lubang besar yang menganga siap menjebak ban kendaraan, menciptakan risiko kecelakaan yang menghantui setiap saat.

Selama ini, warga setempat bukan tanpa upaya. Semangat gotong royong sempat menjadi napas bagi jalan ini. Mawan, seorang warga setempat, menceritakan bagaimana dulunya masyarakat bersama komunitas angkutan bahu-membahu menambal lubang seadanya dengan alat dan biaya mandiri.

Namun kini, mereka angkat tangan. Kerusakan telah mencapai level yang tak lagi bisa ditangani dengan sekop dan tenaga manusia biasa.

"Dulu sering ditambal swadaya, tapi sekarang kerusakannya sudah berat sekali. Sulit kalau hanya mengandalkan warga," ungkap Mawan, Selasa (5/5/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Kondisi ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi sudah menyentuh aspek ekonomi dan keselamatan. Wisnu, salah satu pengendara yang rutin melintasi jalur tersebut, menyebutkan bahwa kerusakan kali ini adalah yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

"Sekarang makin parah. Tidak hanya motor yang kesulitan, mobil juga harus ekstra hati-hati. Ini sangat menyulitkan mobilitas kami," keluh Wisnu.

Baca Juga: Bikin Panik, Kemenhaj Pastikan Video Viral Jemaah Calon Haji Pacitan Tersesat di Mekkah Hoaks

Kerusakan ini laksana penghalang bagi denyut nadi ekonomi desa. Anak-anak yang berangkat sekolah harus bertaruh nyawa di atas motor, sementara kendaraan pengangkut hasil bumi harus melaju merayap demi menghindari kerusakan mesin atau potensi terguling.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda alat berat atau material perbaikan dari pemerintah daerah mendarat di lokasi.

Harapan warga hanya satu agar pemerintah segera turun tangan sebelum kerusakan meluas dan sebelum ada nyawa yang menjadi korban di jalur yang "terlupakan" ini.

Load More