- Jalan kabupaten penghubung Desa Wonoanti, Nglaran, dan Jetak di Pacitan mengalami kerusakan berat sepanjang satu kilometer.
- Upaya perbaikan swadaya oleh warga setempat kini tidak lagi memadai karena tingkat kerusakan jalan semakin parah.
- Kondisi jalan yang berlubang menghambat mobilitas ekonomi serta membahayakan keselamatan warga yang melintas setiap harinya.
SuaraJatim.id - Bagi warga Desa Wonoanti, Nglaran, dan Jetak di Kecamatan Tulakan, Pacitan, perjalanan harian kini bukan lagi soal menempuh jarak, melainkan soal adu ketangkasan menghindari bahaya.
Jalan kabupaten yang menjadi urat nadi penghubung ketiga desa tersebut kini dalam kondisi "sekarat", menyisakan trauma bagi setiap pengendara yang melintas.
Pemandangan aspal yang mulus kini tinggal kenangan. Sepanjang kurang lebih satu kilometer, jalur ini berubah menjadi hamparan batu kerikil yang berserakan, seolah aspalnya telah terkelupas dipaksa cuaca dan beban zaman.
Tak hanya itu, lubang-lubang besar yang menganga siap menjebak ban kendaraan, menciptakan risiko kecelakaan yang menghantui setiap saat.
Selama ini, warga setempat bukan tanpa upaya. Semangat gotong royong sempat menjadi napas bagi jalan ini. Mawan, seorang warga setempat, menceritakan bagaimana dulunya masyarakat bersama komunitas angkutan bahu-membahu menambal lubang seadanya dengan alat dan biaya mandiri.
Namun kini, mereka angkat tangan. Kerusakan telah mencapai level yang tak lagi bisa ditangani dengan sekop dan tenaga manusia biasa.
"Dulu sering ditambal swadaya, tapi sekarang kerusakannya sudah berat sekali. Sulit kalau hanya mengandalkan warga," ungkap Mawan, Selasa (5/5/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Kondisi ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi sudah menyentuh aspek ekonomi dan keselamatan. Wisnu, salah satu pengendara yang rutin melintasi jalur tersebut, menyebutkan bahwa kerusakan kali ini adalah yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
"Sekarang makin parah. Tidak hanya motor yang kesulitan, mobil juga harus ekstra hati-hati. Ini sangat menyulitkan mobilitas kami," keluh Wisnu.
Baca Juga: Bikin Panik, Kemenhaj Pastikan Video Viral Jemaah Calon Haji Pacitan Tersesat di Mekkah Hoaks
Kerusakan ini laksana penghalang bagi denyut nadi ekonomi desa. Anak-anak yang berangkat sekolah harus bertaruh nyawa di atas motor, sementara kendaraan pengangkut hasil bumi harus melaju merayap demi menghindari kerusakan mesin atau potensi terguling.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda alat berat atau material perbaikan dari pemerintah daerah mendarat di lokasi.
Harapan warga hanya satu agar pemerintah segera turun tangan sebelum kerusakan meluas dan sebelum ada nyawa yang menjadi korban di jalur yang "terlupakan" ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Titah Mark-up Mantan Ketua DPRD Ponorogo Berujung Bui
-
Tangis Bayi yang Mendadak Senyap: Tragedi di Kamar Kos Mahasiswi Kedokteran Hewan Surabaya
-
Maut di Gudang Kayu Ngawi: Nestapa Suami Sembunyikan Istri dari Amukan Anak Kandung
-
Lumajang Krisis Air Bersih, Ribuan Warga Lumajang Hanya Bergantung pada Truk Tangki
-
Langkah Terakhir Sang Penakluk Puncak: Maliya Finda Pulang ke Pelukan Bumi Kelahiran