Wakos Reza Gautama
Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:30 WIB
Satuan membunuh mertua sendiri dan menganiaya istri karena faktor ekonomi dan cemburu. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Satuan (43) membunuh ibu mertua dan melukai istrinya di Desa Sumbergirang, Mojokerto, pada Rabu (6/5/2026).
  • Tindak pidana tersebut dipicu oleh konflik rumah tangga berkepanjangan terkait masalah ekonomi serta kecemburuan tersangka.
  • Polisi telah menahan pelaku dan mengamankan barang bukti berupa pisau dapur atas perbuatan penganiayaan dan pembunuhan.

SuaraJatim.id - Di jalanan Kabupaten dan Kota Mojokerto, sosok Satuan (43) mungkin dikenal sebagai pembawa keceriaan. Dengan sepeda jengki tua yang dikayuhnya saban hari, ia menjajakan balon, mainan, hingga menawarkan jasa badut keliling.

Namun, di balik riasan tawa yang ia tunjukkan kepada anak-anak, tersimpan bara amarah yang akhirnya meledak menjadi tragedi berdarah.

Rabu (6/5/2026) menjadi hari kelam bagi warga Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Mojokerto. Desa yang tenang itu digegerkan oleh aksi brutal Satuan di dalam rumahnya sendiri. Bukan tawa yang ia hadirkan kali ini, melainkan jeritan histeris dan genangan darah.

Siti Arofah (52), ibu mertua tersangka, tewas mengenaskan dengan luka tusuk di bagian leher. Sementara istrinya, Sri Wahyuni (36), berhasil selamat meski harus menderita luka parah di wajah dan leher akibat sabetan senjata tajam.

Kapolres Mojokerto, AKBP Andi Yudha Pranata, mengungkapkan bahwa tindakan keji ini bukanlah luapan emosi sesaat, melainkan puncak dari gunung es permasalahan rumah tangga yang sudah lama membeku.

"Profil yang bersangkutan memang bekerja di dunia hiburan keliling. Secara ekonomi, keluarga pelaku maupun korban berasal dari lingkungan ekonomi pas-pasan," ujar AKBP Andi Yudha, Kamis (7/5/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Disparitas ekonomi atau kesenjangan pendapatan antara tersangka dengan istrinya diduga menjadi sumbu pendek. Rasa rendah diri yang bercampur dengan kecemburuan buta menciptakan api konflik yang tak kunjung padam.

Satuan menganggap istrinya tidak lagi bertanggung jawab terhadap keluarga, sebuah tudingan yang terus ia pendam di sela-sela aktivitasnya mengayuh sepeda mencari nafkah.

Puncaknya terjadi saat perselisihan hebat pecah antara Satuan dan istrinya. Siti Arofah, layaknya seorang ibu, mencoba masuk ke tengah pusaran konflik untuk melerai pertengkaran anak dan menantunya tersebut.

Baca Juga: 6 Jam Pelarian Menantu Sadis: Drama Penangkapan Pembunuh Mertua di Mojokerto

Nahas, niat baik Siti justru disambut amarah yang sudah gelap mata. Satuan meraih sebilah pisau dapur dan menghujamkannya ke arah ibu mertuanya. Dia gugur di tangan menantunya sendiri.

"Ini adalah akumulasi dalam waktu panjang. Tersangka akhirnya mengakui telah melakukan dua tindak pidana sekaligus yakni penganiayaan berat terhadap istri dan pembunuhan terhadap mertua," jelas Kapolres.

Kini, "panggung sandiwara" Satuan sebagai badut jalanan telah berakhir di balik jeruji besi. Di lokasi kejadian, polisi mengamankan 12 item barang bukti, termasuk pisau dapur yang menjadi saksi bisu aksi brutal tersebut.

Load More