Wakos Reza Gautama
Senin, 13 Juli 2026 | 13:46 WIB
SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, hanya menerima dua siswa baru pada pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • SDN 2 Plandaan di Tulungagung hanya menerima dua siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027 akibat penurunan peminat sejak 2017.
  • Lokasi sekolah yang tersembunyi serta anggapan warga bahwa sekolah telah tutup menjadi penyebab utama minimnya jumlah pendaftar tahunan.
  • Para guru rela menyisihkan gaji pribadi untuk menutupi biaya operasional serta perlengkapan sekolah demi menjaga keberlangsungan pendidikan siswa.

SuaraJatim.id - SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, kembali harus menelan kenyataan pahit di tahun ajaran 2026/2027. Mereka hanya mendapatkan dua orang siswa baru.

Pemandangan ini bukanlah hal baru bagi Siti Komariyah, sang kepala sekolah. Baginya, angka dua seolah menjadi kutukan sekaligus berkah yang masih tersisa.

Tahun lalu pun sama, hanya ada dua pasang kaki mungil yang mendaftar di kelas satu. Total seluruh murid dari kelas 1 hingga 6 kini hanya berjumlah 16 anak.

"Sejak 2017, jumlah siswa kami terus menurun. Setiap tahun tantangannya semakin berat," ujar Siti, Senin (13/7/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Banyak faktor yang membuat SDN 2 Plandaan perlahan kehilangan napas. Lokasinya yang tersembunyi di belakang balai desa membuat keberadaannya tak kasat mata bagi masyarakat luas.

Ironisnya, beredar anggapan di tengah warga bahwa sekolah ini sudah lama tutup, padahal lonceng masuk masih berbunyi setiap pagi.

Tak mau menyerah pada keadaan, para guru telah melakukan gerilya sejak tiga bulan sebelum pendaftaran dibuka.

Mereka mengetuk pintu ke pintu, mendatangi rumah calon wali murid, hingga menawarkan berbagai janji manis agar anak-anak desa mau bersekolah di sana. Namun, daya tarik sekolah-sekolah besar di sekitarnya masih terlalu kuat untuk ditandingi.

Minimnya jumlah siswa berdampak langsung pada operasional sekolah. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang cair berdasarkan jumlah kepala siswa tentu sangat kecil. Di sinilah letak heroisme yang sesungguhnya.

Baca Juga: SDN Nailan Ponorogo di Ujung Tanduk: Kelas 1 & 2 Kosong Melompong, Hanya Tersisa 13 Murid

Demi menjaga api pendidikan tetap menyala, para guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di SDN 2 Plandaan merelakan sebagian gaji mereka. Setiap bulan, mereka menyisihkan uang pribadi untuk iuran.

Uang hasil patungan itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membeli seragam, perlengkapan sekolah, bahkan memberikan modal tabungan awal bagi dua siswa baru yang masuk.

"Dana iuran guru kami gunakan untuk membelikan seragam dan perlengkapan sekolah agar siswa baru semangat," tutur Siti.

Load More