Wakos Reza Gautama
Jum'at, 17 Juli 2026 | 10:21 WIB
Seorang pegiat sejarah dan arkeologi berlatar pendidik di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menyimpan sedikitnya sembilan manuskrip (kumpulan naskah) kuno hasil tulisan tangan yang diperkirakan dibuat sekitar abad 19. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Harmaji, seorang pendidik di Trenggalek, menjaga delapan jilid manuskrip Islam klasik peninggalan keluarga sejak tahun 2015.
  • Naskah kuno tersebut didaftarkan ke Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2019 untuk mendapatkan perlindungan serta identifikasi resmi.
  • Digitalisasi dilakukan untuk melestarikan ilmu pengetahuan dalam manuskrip agar dapat diakses generasi mendatang tanpa merusak fisik naskah.

SuaraJatim.id - Di sebuah sudut rumah di Desa Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Harmaji (50) memperlakukan tumpukan naskah usang dengan sangat hati-hati.

Bukan sekadar kertas tua, lembaran-lembaran yang sebagian sudah mulai rapuh termakan usia itu adalah saksi bisu peradaban literasi dari abad ke-19.

Harmaji bukan sekadar kolektor. Pendidik sejarah di SMKN 1 Pogalan ini adalah penjaga amanah. Pada tahun 2015, sang ayah menyerahkan delapan jilid manuskrip tulisan tangan kepadanya.

Sebuah harta karun keluarga yang memuat intisari ilmu pengetahuan Islam klasik, mulai dari tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf), tafsir Al-Quran, hingga kisah heroik para sahabat Nabi.

Manuskrip koleksi Harmaji unik secara fisik. Sebagian ditulis di atas kertas daluang, kertas tradisional berbahan kulit kayu yang memperlihatkan serat kasar nan eksotis.

Sebagian lagi menggunakan kertas kuno asal Eropa yang jika diterawang akan memunculkan watermark khas zaman kolonial.

"Semuanya adalah tulisan tangan asli dengan tinta celup tradisional, bukan cetakan," ungkap Harmaji saat ditemui di kediamannya, Kamis (16/7/2026).

Meski beberapa bagian telah menjadi fragmen karena dimakan usia, gurat tinta hitam di atas media lawas itu masih memancarkan aura pengetahuan yang kuat.

Sadar bahwa fisik naskah punya batas umur, Harmaji melakukan langkah besar pada 2019. Ia melaporkan temuannya ke Dinas Perpustakaan setempat.

Baca Juga: Nyamar Jadi Lia di Telegram, Guru SMK di Kediri Cabuli Siswa Sendiri

Hasilnya, naskah-naskah tersebut kini telah resmi terdaftar dan diregistrasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Langkah paling krusial adalah digitalisasi. Bagi Harmaji, menyimpan naskah asli di dalam kotak khusus adalah upaya menjaga fisik, namun mendigitalkannya adalah upaya menjaga ilmu.

"Ilmu yang tersimpan di dalam manuskrip ini tidak boleh berhenti di rumah kami saja. Digitalisasi adalah cara agar generasi mendatang tetap bisa mengakses isinya tanpa harus merusak fisik naskah yang sangat rentan," jelasnya.

Kini, manuskrip-manuskrip tersebut tersimpan rapi dalam kotak penyimpanan khusus bantuan dari pemerintah. Harmaji mengaku ada kepuasan batin yang luar biasa ketika peneliti atau akademisi bisa mengakses data naskahnya melalui sistem Perpusnas.

Ia pun menitipkan pesan bagi warga lain yang mungkin masih menyimpan naskah kuno peninggalan leluhur di lemari-lemari gelap mereka. Jangan ragu untuk melapor.

"Jangan biarkan sejarah hilang ditelan rayap. Melalui identifikasi ahli filologi dan digitalisasi, kita bisa memastikan bahwa khazanah sejarah lokal kita tetap abadi," pungkasnya. (ANTARA)

Load More