- Polres Blitar Kota resmi memberhentikan tidak dengan hormat Aiptu EW pada Sabtu, 18 Juli 2026, karena kasus narkotika.
- Keputusan PTDH diambil akibat Aiptu EW berulang kali melanggar kode etik Polri terkait penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
- Upacara formal tersebut bertujuan sebagai peringatan keras bagi seluruh personel kepolisian agar menghindari pelanggaran hukum dan etika profesi.
SuaraJatim.id - Matahari di halaman Mapolres Blitar Kota, Sabtu (18/7/2026), menjadi saksi bisu sebuah prosesi yang menyakitkan namun harus dilakukan. Tidak ada pengalungan bunga atau jabat tangan perpisahan yang hangat.
Sebagai gantinya, sebuah spidol hitam bergerak tegas, mencoret foto seorang pria berseragam polisi di hadapan ratusan pasang mata anggota korps Bhayangkara.
Pria dalam foto itu adalah Aiptu EW. Ia tidak hadir di sana namun namanya bergema sebagai pengingat pahit tentang bagaimana narkotika bisa menghancurkan pengabdian selama puluhan tahun. Hari itu, Aiptu EW resmi diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) dari institusi Polri.
Keputusan berat ini tidak datang tiba-tiba. Aiptu EW bukan pemain baru dalam daftar hitam pelanggaran etika. Kasi Humas Polres Blitar Kota, AKP Samsul Anwar, mengungkapkan bahwa EW telah berulang kali terjerat kasus penyalahgunaan hingga peredaran gelap narkotika.
"Yang bersangkutan sudah berulang kali menjalani sidang disiplin dan kode etik. Namun, tidak ada perubahan perilaku. Keputusan PTDH ini adalah langkah terakhir yang harus diambil," tegas AKP Samsul dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Karier EW sebenarnya tergolong panjang. Sebelum bertugas di Polsek Sukorejo, Polres Blitar Kota, ia sempat mencicipi penugasan di lingkungan Polda Metro Jaya.
Namun, alih-alih mengakhiri masa dinas dengan kebanggaan, ia justru harus melepaskan hak dan kewajibannya sebagai polisi karena pilihan hidup yang salah.
Upacara PTDH ini sengaja digelar secara formal dan dihadiri seluruh personel. Tujuannya sebagai terapi kejut (shock therapy).
“Ini adalah warning bagi seluruh anggota. Kami ingin menunjukkan contoh nyata bahwa siapa pun yang melanggar, risikonya adalah kehilangan seragam,” tambah AKP Samsul.
Baca Juga: Pintu Kamar Terbuka, Muncul Rekan Sejawat: Detik-Detik Oknum Polisi Blitar Terjaring Pesta Sabu
Secara yuridis, EW dinyatakan melanggar sejumlah pasal dalam PP Nomor 1 Tahun 2003 dan Peraturan Kepolisian Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi Polri.
Berita Terkait
-
Pintu Kamar Terbuka, Muncul Rekan Sejawat: Detik-Detik Oknum Polisi Blitar Terjaring Pesta Sabu
-
Blitar Menggelegar! Bom Seberat 100 Kg Diledakkan, Warga Kira Gunung Kelud Meletus
-
Sulit Dievakuasi, Bom Pesawat Raksasa di Blitar Masih Terkubur di Dasar Sungai Lahar
-
Gaji Pegawai Kopdes Merah Putih Blitar Cair, Nominalnya di Bawah UMK
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Survei IndocPolls: Seskab Teddy Teratas, Nusron Wahid Dapat Penilaian Terendah
-
BRI Salurkan Kredit Rp1.645,5 Triliun dan Perkuat Pembiayaan UMKM
-
Obral Akun WA Rp500 Perak, Hacker Asal Krian Raup Rp100 Juta untuk Promosi Judol Kamboja
-
Modus Stempel Palsu & Belanja Fiktif: Ketua dan Bendahara KONI Pasuruan Dijebloskan ke Penjara
-
Dibuang di Teras Toko Beralas Selimut Pink, Bayi 3 Hari di Bangkalan Buat Hati Bu Kades Meleleh