- KH Miftachul Akhyar didukung kembali menjadi Rais Aam PBNU pada Muktamar ke-35 di Jombang karena dinilai independen.
- Dukungan kepada KH Miftachul Akhyar mengalir dari 36 pengurus wilayah serta PCNU Kabupaten Batu Bara untuk menjaga marwah organisasi.
- KH Miftachul Akhyar memiliki latar belakang keilmuan pesantren yang kuat dan pernah menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden pada 2025.
SuaraJatim.id - Bursa pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU semakin menjadi sorotan.
Di tengah tarik-menarik kepentingan dan riuhnya dinamika politik organisasi, nama KH Miftachul Akhyar kembali mengemuka sebagai figur yang dinilai mampu menjaga marwah Syuriyah sekaligus memastikan otoritas ulama tetap menjadi kompas NU memasuki abad kedua.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu dipandang memiliki modal keulamaan, pengalaman organisasi, serta sikap independen yang dibutuhkan untuk menjaga NU agar tidak terseret terlalu jauh ke dalam kepentingan politik praktis.
Jejak keilmuan KH Miftachul Akhyar dibangun sejak usia delapan tahun ketika menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Pesantren Rejoso Darul Ulum, Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga berguru kepada Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Bagi pendukungnya, perjalanan panjang tersebut bukan sekadar catatan pendidikan pesantren. Sanad keilmuan itu menjadi salah satu alasan KH Miftachul Akhyar dinilai memiliki pijakan kuat untuk memimpin otoritas tertinggi ulama NU.
Sikapnya dalam menjaga independensi juga pernah ditunjukkan ketika memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2022. Keputusan tersebut diambil untuk lebih fokus menjalankan khidmah sekaligus menghindari rangkap jabatan.
Pilihan itu menjadi salah satu rekam jejak yang kerap dikaitkan dengan gagasan bahwa Rais Aam harus berdiri di atas kepentingan kelompok dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis.
Tegaskan Otoritas Syuriyah
Baca Juga: Khofifah: Muktamar NU Harus Jadi Momentum Perkuat Soliditas!
Keteguhan KH Miftachul Akhyar juga terlihat ketika NU menghadapi persoalan kepemimpinan. Ia menegaskan posisi dan otoritas Syuriyah sebagai salah satu pilar utama organisasi.
Sikap tersebut kemudian mendapat dukungan dari 36 pengurus wilayah. Dinamika itu berujung pada keputusan mempercepat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akhirnya digelar di Tambakberas, Jombang.
Di tengah situasi yang sempat diwarnai ketegangan, KH Miftachul Akhyar juga tampil sebagai salah satu figur yang berusaha menjaga suasana tetap kondusif. Ia memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin menjelang pelaksanaan Muktamar.
Pesan yang disampaikan bukan sekadar ritual keagamaan. Istighosah menjadi simbol penting bahwa dalam situasi politik organisasi yang menghangat, NU tetap memiliki ruang untuk kembali kepada tradisi keulamaan.
Sikap tersebut kembali terlihat dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU. KH Miftachul Akhyar menyampaikan Khutbah Iftitah dalam bahasa Arab, meneruskan tradisi yang diwariskan para pendahulu NU.
Dalam khutbah tersebut, ia menyampaikan tiga kegembiraan: kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, serta terselenggaranya Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, pesantren yang memiliki kaitan historis kuat dengan salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
Pilihan
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
-
Massa Bikin Barikade di Jalan Palmerah Utara, Hadapi Polisi yang Tembakkan Gas Air Mata
Terkini
-
Muktamar ke-35 NU: KH Miftachul Akhyar Didorong Kembali Jadi Rais Aam
-
Gus Ipul: Sistem Pemilihan Ketum dan Rangkap Jabatan Bakal Jadi Bahasan Menarik Muktamar NU
-
Bancakan Dana SMP di Sampang: Uang Rehabilitasi Sekolah Rp2,7 Miliar Menguap, Eks Kadisdik Masuk Sel
-
Gus Yahya Klaim Direstui Para Kiai Sepuh, Siap Lanjutkan Kepemimpinan PBNU
-
Khofifah: Muktamar NU Harus Jadi Momentum Perkuat Soliditas!