- Uji laboratorium mengonfirmasi adanya kontaminasi bakteri berbahaya pada makanan SPPG Pakisrejo yang menyebabkan gangguan pencernaan massal.
- Insiden keracunan pada akhir Juli lalu menimpa 66 orang yang terdiri dari anak-anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui di Rejotangan.
- Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG Pakisrejo dan memperketat pengawasan serta inspeksi mendadak untuk mengevaluasi keamanan pangan.
SuaraJatim.id - Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Pakisrejo akhirnya keluar.
Hasilnya positif. Ada kontaminasi bakteri yang menjadi biang keladi gangguan pencernaan massal yang menimpa puluhan penerima manfaat.
"Secara umum memang ada temuan positif bakteri. Jenis bakteri ini yang menyebabkan gangguan pencernaan pada para penerima manfaat," ujar Sri Wahyuni, Anggota Satgas MBG Tulungagung, Senin (7/9/2026).
Meski tim medis belum merinci spesifikasi jenis bakteri tersebut, temuan ini menjadi alarm keras bagi sistem keamanan pangan daerah.
Bakteri bukan sekadar angka di atas kertas; ia adalah simbol adanya celah dalam rantai panjang produksi, mulai dari proses pengolahan di dapur, distribusi yang mungkin terpapar panas, hingga cara penyajian di tangan konsumen.
Tragedi ini bukan angka kecil. Sedikitnya 66 orang, mulai dari anak-anak sekolah yang ceria, balita, hingga ibu hamil dan menyusui di Kecamatan Rejotangan, harus bertumbang akibat keracunan pada akhir Juli lalu.
Mereka yang seharusnya mendapatkan suntikan nutrisi justru harus berjuang melawan dehidrasi dan sakit perut.
Buntut dari insiden ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah menghentikan sementara operasional SPPG Pakisrejo.
Dapur yang biasanya sibuk mengepul itu kini sunyi, memberi ruang bagi tim Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) untuk membedah setiap sudut risiko.
Baca Juga: Bupati Nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Bantah Dakwaan Pemerasan dan Gratifikasi
"Kami mendorong percepatan monitoring dan evaluasi berkala. Tidak akan ada lagi kompromi. Inspeksi mendadak akan diperketat ke setiap satuan pelayanan," tegas Sri Wahyuni.
Hasil inspeksi ini nantinya akan menjadi kitab baru bagi standar keamanan pangan di Tulungagung. Pemerintah berkomitmen bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang. (ANTARA)
Tag
Berita Terkait
-
Bupati Nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Bantah Dakwaan Pemerasan dan Gratifikasi
-
666 Santri Tumbang Keracunan MBG, Alumni Ponpes Manbaul Hikam Menggugat Sikap Dingin SPPG
-
Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS
-
Wagub Jatim: Biaya Pengobatan Korban Dugaan Keracunan MBG Ditanggung Negara
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
Pilihan
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
-
Episode Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Kata Badan Geologi
-
Abu Vulkanik Krakatau Meningkat, Operasional Bandara Soetta Berhenti hingga Pukul 6 Sore
Terkini
-
Jember Mau Utang Rp786 Miliar, PDIP Ngamuk dan Boikot Sidang Paripurna
-
Hasil Lab Keluar! Bakteri Ditemukan dalam Program MBG Tulungagung
-
Madura Unied Tancap Gas, Ze Gomes: Liga Indonesia Tidak Gampang
-
Wakil Wali Kota Blitar Pimpin Demo ke Balai Kota: Buntut Dana KONI Mampet
-
KAI Daop 8 Tambah 1.032 Kursi Kereta Surabaya-Jakarta Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau