Indeks Terpopuler News Lifestyle

Satgas COVID-19 Jatim Waspadai Muncul Klaster Baru saat Sekolah Dibuka

Pebriansyah Ariefana Minggu, 09 Agustus 2020 | 10:23 WIB

Satgas COVID-19 Jatim Waspadai Muncul Klaster Baru saat Sekolah Dibuka
Guru dan siswa melakukan simulasi kegiatan belajar tatap muka di SMPN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2020). [ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang]

Prosedur pengambilan keputusan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan secara bertingkat seperti pada SKB sebelumnya.

SuaraJatim.id - Satgas Penanganan Covid-19 Jatim mewaspadai munculnya klaster virus corona baru saat sekolah di Jawa Timur dibuka. Sebab pemerintah pusat mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka.

Dalam perubahan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri ini, izin pembelajaran tatap muka diperluas ke zona kuning dari sebelumnya hanya di zona hijau.

Prosedur pengambilan keputusan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan secara bertingkat seperti pada SKB sebelumnya.

Pemda/kantor/kanwil Kemenag dan sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menentukan apakah daerah atau sekolahnya dapat mulai melakukan pembelajaran tatap muka.

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuadi menjelaskan pembukaan sekolah tatap muka harus menunggu wilayah tersebut menjadi zona hijau.

Dokter Joni tidak ingin terjadi klaster penyebaran baru Covid-19 di sekolah.

“Menurut saya harus hijau dulu, Rate of Transmision (Rt) haru di bawah 1 dulu. Artinya, penularan turun atau tidak ada case, sehingga kans timbulnya penyakit itu kecil. Kita harus belajar dari pengalaman China saat membuka pendidikan tatap muka. Meski dibuka dengan protokol ketat, justru masih ditemukan penyebaran kasus baru,” jelas dia kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (8/8/2020).

Dia menjelaskan, kasus pada anak-anak memang rendah di Jatim. Namun, jika dibuka tanpa mempertimbangkan kajian epidemiologi akan sangat berbahaya.

Dokter Joni juga menilai ada perbedaan klinis antara anak-anak dengan orang dewasa.

“Memang case pada anak-anak tidak banyak. Cuma pada anak-anak klinisnya beda dengan dewasa, sehingga harus hati-hati. Ini karena penerapan protokol kesehatan pada anak-anak sangat sulit, mereka kan kalau udah ketemu temannya seperti itu, makanya harus hati-hati,” tuturnya seperti dilansir Beritajatim.com.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait