SuaraJatim.id - Hanya gara-gara memprotes kualitas jalan desa, seorang dosen perguruan tinggi swasta berinisal Sa di Kepulauan Bawean, Gresik malah dianiaya oleh seorang kepala desa.
Sa dipukuli hingga sepuluh kali dan dilempar keranjang sampah oleh kepala desa berinisial Su.
Peristiwa itu bermula saat korban memprotes kualitas jalan desa ke salah satu perangkat desa. Nahas, informasi itu sampai di telinga kepala desa tersebut.
Mendengar kabar itu sang kepala desa murka hendak menghampiri korban.
Namun tidak berselang lama, korban tidak sengaja melintas di depan rumah korban. Mengetahui itu, pelaku langsung menghadang korban dan melakukan pengainiyaan. Pelaku membabi buta memukuli korban.
Penganiaan itu sempat dilerai oleh warga. Namun sia-sia, kepala desa malah semakin marah hingga melempar keranjang sampah ke korban. Sampai akhirnya kasus ini di laporkan ke polisi oleh korban dan diperkarakan ke meja hukum.
Korban Sa mengungkapkan, sebagai warga dirinya berhak menyuarakan pendapat. Apalagi jalan desa yang dibangun diambilkan dari anggaran pemerintah. Tentu kritik yang dimaksudkan supaya pemerintahan desa melakukan pembenahan.
Tapi kritik itu malah dijawab dengan penganiayaan sang kepala desa. Sebab pelaku menganggap kritik korban Sa terlalu banyak ikut campur terhadap pembangunan desa.
“Saya hanya mengusulkan kepada Kaur Perencanaan Proyek Desa, kalau membangun jalan yang kuat dan tangguh sekalian, biar tidak nanti tidak buang-buang uang rakyat. Malah saya dituduh ikut campur atas proyek jalan itu,” kata korban Sa saat dihubungi, Sabtu (10/10/2020).
Sa menilai perbuatan kepala desa tidak dibenarkan. Mestinya sebagai pejabat dirinya harus mendengarkan keluh kesah warganya. Bukan malah melakukan penganiayaan. Bahkan kepala desa sempat menantang agar dirinya melapor ke polisi.
“Saya akhirnya membuat laporan ke polisi," terang dosen STIT Raden Santri Bawean.
Sedangkan kasus penganiayaan ini sudah ditangani oleh Polsek Sangkapura. Kanit Reskrim Polsek Sangkapura, Aiptu Basuki Darianto telah memanggil pelapor maupun terlapor. Mereka telah menjalani pemeriksaan di Mapolsek Sangkapura.
"Pelapor dan terlapor sudah kami periksa,” ucapnya.
Sementara itu kepala desa tersebut, saat dikonfirmasi tidak mengelak terkait kejadian itu. Bahwa ia memang melakukan pengainiayaan terhadap korban.
Kendati demikian, pihaknya mengklaim telah menyelesaikan secara kekeluargaan.