Ternyata di dalam sang perawat menyampaikan jika kekurangan tenaga medis di UGD lantaran banyak pasien yang sedang menjalani observasi.
"Kata nakesnya kurang, banyak yang terpapar Covid-19. Sedangkan nakes yang lain masih observasi pasien lain," lanjut Riki.
Sehingga tak ingin adanya hal di inginkan, Ia pun menghubungi salah satu dokter di RS Sakinah Kecamatan Sooko. Walaupun situasi rumah sakit penuh, adiknya itu diminta segera membawanya karena mendengar kondisi adiknya kritis.
"Sampai di sana, langsung diberikan pertolongan oksigen meski harus ditangani di depan pintu masuk IGD karena BED di RS tersebut penuh. Saat masuk IGD Sakinah langsung dites swab antigen, hasilnya positif keluar pada hari Jumat," bebernya.
Baca Juga:Astaga! Emak-emak Tak Pakai Helm, Motor Selip Jatuh Hantam Aspal, Tewas Seketika
Dalam menjalani perawatan, kondisi adiknya tersebut seringkali drop dan memiliki riwayat asma, sehingga hasil rontgen paru-parunya putih semua karena Corona.
"Adik saya saturasinya bisa naik cepat sampai 70 dia sadar, tapi satu jam drop lagi naik turun seterusnya seperti itu," terangnya.
Tak lama kemudian, ia bersama sang keluarga mendapatkan kabar dari sang dokter jika WS telah meninggal dunia.
"Akhirnya adik saya pukul 21.00 Wib, mengembuskan napas terakhir dan dimakamkan dengan protokol kesehatan," tuturnya.
Riki pun berharap, agar kejadian seperti yang dialaminya tidak sampai terjadi di kalangan masyarakat Mojokerto pada khususnya.
Baca Juga:Jatuh dari Motor dan Kepalanya Menghantam Aspal, Korban Meninggal Seketika
"Masyarakat juga sangat butuh ambulans dan oksigen. Namun, pinjam ambulans puskesmas sulit," katanya menegaskan.