Surat Al Kafirun Ayat 1-6: Keutamaan dan Tafsirnya

Surat Al Kafirun mengandung pernyataan Nabi Muhammad tidak akan menyembah Tuhan selain Allah.

Pebriansyah Ariefana
Kamis, 28 Oktober 2021 | 08:16 WIB
Surat Al Kafirun Ayat 1-6: Keutamaan dan Tafsirnya
Ilustrasi berdoa (pixbay)

Ayat 4: Wa laa ana ‘aabidum maa ‘abadtum.

Artinya, “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.”

Kata ‘abadtum merupakan bentuk kata kerja masa lampau. Berbeda dengan kata ta’budun pada ayat 2 yang merupakan fi’il mudhari’.

Perbedaan maa ta’buduun dan maa ‘abadtum ini menunjukkan bahwa apa yang mereka sembah di masa kini dan esok bisa berbeda dengan apa yang mereka sembah di masa kemarin. Sedangkan untuk Allah yang diibadahi Rasulullah, digunakan kata yang sama yakni maa a’bud. Menunjukkan konsistensi ibadah dan ketaatan hanya kepada Allah.

Baca Juga:Surat Al Kahfi Ayat 1-10: Manfaat dan Keutamaan Selamat dari Kiamat dan Dajjal

Ayat 5: Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.

Artinya, “dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”

Sayyid Qutb mengatakan bahwa ayat ini merupakan penegasan terhadap ayat sebelumnya agar tidak ada lagi salah sangka dan kesamaran. Supaya tidak ada lagi prasangka dan syubhat.

Sedangkan Syaikh Muhammad Abduh mengatakan, ayat 2 dan ayat 3 menjelaskan perbedaan yang disembah. Sedangkan ayat 4 dan 5 menjelaskan perbedaan cara beribadah. Tegasnya, yang disembah lain, cara menyembah juga lain.

Ayat 6: Lakum diinukum waliya diin.

Baca Juga:Masjid Disegel Satpol PP, Ketua MUI Depok Minta Jemaat Ahmadiyah Segera Bertaubat

Artinya, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Kata diin artinya adalah agama, balasan, kepatuhan dan ketaatan. Sebagian ulama memilih makna balasan karena menurut mereka orang kafir Quraisy tidak memiliki agama.
Sedangkan yang mengartikan din sebagai agama, bukan berarti Rasulullah mengakui kebenaran agama mereka, namun mempersilakan menganut apa yang mereka yakini.
Didahulukannya kata lakum dan liya menggambarkan kekhususan karena masing-masing agama berdiri sendiri dan tidak perlu dicampuradukkan.

Ibnu Katsir mengutip Imam Bukhari bahwa lakum diinukum yakni kekafiran, sedangkan waliya diin yakni Islam. Sayyid Qutb menegaskan, “Aku di sini dan kamu di sana! Tidak ada penyeberangan, tidak ada jembatan dan tidak ada jalan kompromi antara aku dan kamu.”

Kontributor : Titi Sabanada

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini